Kim menambahkan bahwa drama ini dibangun di atas kasus nyata, ditingkatkan dengan sedikit imajinasi kreatif.

"Saya akan sangat bersyukur jika penonton bisa merenungkan isu-isu ini setelah menonton. Itu harapan kami, meskipun tidak bisa dipaksakan—tetapi akan luar biasa jika bisa memicu percakapan."

Kontroversi dan Adaptasi

Adaptasi live-action ini menghadapi jalan terjal menuju rilis.

Proyek ini awalnya memicu kekhawatiran karena webtoon aslinya menuai kontroversi berat atas adegan supervisor yang memukuli siswa, hukuman fisik keras, serta tuduhan diskriminasi ras dan gender.

Kim menjelaskan bahwa drama ini menjadi kesempatan baginya untuk secara tidak langsung mengalami isu-isu di bidang pendidikan.

>>> Sutradara Animasi Akira dan Produser Chainsaw Man Bersatu untuk Pilot Anime OROCHI

"Kami berusaha keras memastikan pertunjukan ini tidak dikonsumsi hanya sebagai hiburan tanpa pikiran atau fantasi balas dendam murahan."

"Saya berharap penonton melihat 'hukuman fisik' dalam pertunjukan ini semata-mata sebagai alat naratif—alat untuk mendorong karakter menuju refleksi diri, penyesalan, dan rasa bersalah."

"Kami tidak ingin cerita berakhir pada tahap hukuman; sebaliknya, kami mencoba fokus sepenuhnya pada bagaimana para siswa berubah setelahnya."

Ia mencatat bahwa alur paling berkesan adalah akhir cerita, di mana karakternya berhadapan dengan seorang siswa, Gyu-cheol, yang membunuh tunangannya.

Alih-alih mengejar balas dendam pribadi, Na menghadapinya sebagai seorang pendidik.

"Hwa-jin berkata kepada Gyu-cheol, 'Tidak apa-apa, mari kita coba lagi.'

Saya merasa seluruh busur karakter Hwa-jin menjadi lengkap pada saat itu, dengan akhirnya memilih pengampunan dan disiplin daripada balas dendam."

Makna Pendidikan Sejati

Ketika ditanya apa arti "pendidikan sejati" baginya, Kim mengakui kompleksitas perdebatan tersebut.

"Isu di bidang pendidikan melibatkan konflik kepentingan yang sangat tajam dan mengakar. Ini adalah masalah yang sangat kompleks bahkan para ahli dan pendidik di garis depan kesulitan menyelesaikannya."

Ia mengungkapkan kekagumannya yang besar terhadap keberanian drama ini dalam mengangkat topik sensitif ke permukaan media arus utama.

"Saya percaya para kreator membuat karya ini untuk menyoroti realitas masalah sulit ini agar orang benar-benar mulai memikirkannya."

"Jika tim produksi, aktor, dan staf melakukan sekitar 98 persen pekerjaan, 2 persen sisanya diselesaikan oleh apa pun yang dirasakan penonton."

>>> Justin Hubner Resmi Nikahi Jennifer Coppen di Bali dengan Adat Jawa

"Pada akhirnya, jika sepuluh orang menonton drama ini, sepuluh definisi berbeda tentang 'pendidikan sejati' akan muncul. Jika seribu orang menonton, akan ada seribu makna berbeda."