Mengundang mantan pasangan ke hari pernikahan sering menjadi perdebatan. Sebagian menganggapnya sebagai bentuk kedewasaan dan keikhlasan, sebagian lain menilainya tidak perlu.

Seorang mantan karyawan public relations di perusahaan multinasional berbagi pengalaman. Ia dulu sering menolak undangan pernikahan mantan dengan alasan tugas kantor.

>>> Harga Energi Global Kompak Melemah 12 Juni 2026 Dipicu Draf Damai AS Iran

Kini, ia justru berada di posisi sebaliknya: mengundang mantan ke pernikahannya sendiri. Keputusan itu muncul setelah menonton video klip lagu "Titik Nadir" dari Kahitna dan Monita Tahalea.

Adegan dalam video klip itu menggambarkan mantan yang hadir di resepsi pernikahan. Liriknya terasa getir, mewakili perasaan yang tak terucap.

Publik kerap menghakimi pihak yang mengundang mantan. Mereka dicap tega dan tidak berperasaan.

Namun, benarkah kita tahu isi hati mereka?

Keberanian di Balik Undangan

Mengundang mantan bukan perkara ringan. Dibutuhkan keberanian besar, terutama jika hubungan kandas karena faktor eksternal seperti restu keluarga.

Penulis mengaku sempat bimbang. Ibunya menyarankan untuk tetap mengirim undangan agar mantan tidak menyimpan harapan.

Undangan pun terkirim. Tak lama, pesan-pesan datang berisi ucapan selamat dan ketidakpercayaan atas keputusan menikah yang terasa cepat.

>>> Pendidikan Gratis dan Lapisan Persoalan Baru di Baliknya

Sosok Mas N, mantan penulis, hadir bersama rekan kantornya. Senyumnya tak selebar dulu, tetapi ia menunjukkan itikad baik dengan menjabat tangan dan mengucapkan selamat.

Ia juga menyapa ibu penulis yang dulu tidak menyetujui hubungan mereka. Sikapnya tetap sopan, meski mungkin hatinya masih berat.

Kehadiran Mas N terasa sebagai penutup satu bab kehidupan yang pernah penting. Bukan sebagai gangguan, melainkan bentuk kedewasaan.