Allah melanjutkan firman-Nya: "Dan sungguh negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa." Kehidupan setelah kematian jauh lebih utama karena menyajikan kebahagiaan abadi.

Lalu, siapakah orang bertakwa? Mereka adalah orang yang takut kepada Allah, menaati perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, dan senantiasa mencari rida-Nya.

Takwa bukan sekadar ucapan, melainkan terwujud dalam perbuatan baik, kejujuran, ketabahan, dan konsistensi menjaga hubungan dengan Sang Pencipta.

Bagian akhir ayat ditutup dengan kalimat tanya yang menggugah logika. Orang yang berpikir jernih akan sadar bahwa bumi hanyalah tempat bercocok tanam spiritual, hasilnya dipanen di akhirat.

Manusia cerdas bukan yang menumpuk harta atau meraih pangkat tertinggi, melainkan yang meletakkan dunia di genggaman tangan, bukan di dalam hati.

Fasilitas duniawi seharusnya dialihfungsikan sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah dan mengumpulkan bekal menuju alam keabadian.

Saat ajal menjemput, materi, jabatan, dan status sosial tidak akan menemani di dalam kubur. Satu-satunya yang melekat hanyalah rekam jejak amal perbuatan.

"Dunia menipu dan sementara. Akhirat benar dan kekal.

>>> PT Timah Tbk Hapus Jabatan Wakil Direktur Utama dalam RUPST

Orang cerdas akan memilih takwa: hidup untuk Allah, bukan diperbudak dunia," pesan Ustadz Ahsanul Falihin.