PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mencatat laba bersih sebesar Rp23,3 triliun hingga Mei 2026. Angka ini naik 19 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kenaikan laba bersih tersebut didorong oleh ekspansi kredit segmen grosir dan program pemerintah. Demikian dilansir dari Investor Daily pada Jumat (12/6/2026).

>>> Wuling Buka Pemesanan Awal Aira EV, Uang Muka Rp 10 Juta

Khusus pada Mei 2026, laba bersih emiten perbankan pelat merah ini tumbuh 18 persen secara tahunan menjadi Rp5,3 triliun.

Data tersebut berdasarkan catatan keuangan dari Verdhana Sekuritas.

Pendapatan bunga bersih perseroan juga meningkat 10 persen menjadi Rp34,9 triliun per Mei 2026. Sementara itu, laba sebelum provisi melonjak 14 persen mencapai Rp31,9 triliun.

Margin Bunga Stabil dan Kualitas Aset Sehat

Verdhana Sekuritas mencatat margin bunga bersih (NIM) Bank Mandiri stabil di level 4 persen.

Hal ini ditopang oleh penurunan biaya dana sebesar 50 basis poin menjadi 2,4 persen.

Meskipun imbal hasil aset terkontraksi 70 bps menjadi 6,2 persen, rasio biaya terhadap pendapatan (CIR) turun menjadi 34 persen.

>>> Kanada vs Bosnia Herzegovina di Laga Perdana Piala Dunia 2026

Penurunan ini mencerminkan hasil investasi teknologi dan efisiensi biaya operasional.

Kualitas aset Bank Mandiri dinilai masih sehat dengan rasio biaya kredit di level 0,5 persen.

"Biaya kredit turun 20 bps, sedangkan write off stabil dan provisi menurun sehingga LLR menjadi 2,4 persen," tulis Verdhana.

Penyaluran kredit dan dana pihak ketiga (DPK) masing-masing tumbuh 21 persen dan 22 persen. Rasio pinjaman terhadap simpanan (LDR) turun 110 bps menjadi 91,9 persen.

Verdhana Sekuritas memprediksi pertumbuhan kredit ke depan akan normalisasi pada kisaran 7-9 persen sepanjang 2026.

>>> LG Ungkap Peta Jalan AI Home Menuju Ekosistem Zero Labor Home

Saat ini saham BMRI diperdagangkan dengan PBV 1,3 kali, dan sekuritas memberikan rekomendasi beli dengan target harga Rp6.000 per saham.