Karena itu, sisa usia yang dimiliki perlu dimanfaatkan untuk memperbaiki perilaku, memperbanyak ibadah, dan meninggalkan perbuatan yang tidak memberi manfaat.

Imam Al-Ghazali dalam Kitab Ayyuhal Walad menjelaskan bahwa salah satu tanda kerugian manusia adalah ketika waktunya habis untuk perkara yang tidak membawa manfaat.

Selain itu, Syekh Ahmad ibnu Atha'illah as-Sakandari dalam Al-Hikam menyampaikan bahwa panjang pendeknya umur bukan satu-satunya ukuran, sebab yang lebih penting adalah keberkahan dan manfaat dari umur tersebut.

Pergantian tahun menjadi momen memperbaiki diri

Khutbah ini mengajak jamaah menjadikan tahun baru sebagai waktu untuk melakukan evaluasi diri. Bertambahnya usia seharusnya diikuti dengan bertambahnya kebaikan dan kedekatan kepada Allah SWT.

Rasulullah SAW menjelaskan bahwa manusia terbaik adalah mereka yang diberi umur panjang dan menggunakan kesempatan itu untuk memperbanyak amal baik. Sebaliknya, umur panjang yang dipakai untuk keburukan menjadi kerugian bagi seseorang.

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa nilai sebuah kehidupan tidak hanya dihitung dari lamanya seseorang hidup, tetapi dari apa yang dilakukan selama menjalani kehidupan tersebut.

Menjadikan hidup sebagai jalan memperbanyak kebaikan

Imam Ibnu Rajab al-Hanbali juga menjelaskan bahwa orang beriman seharusnya mengalami peningkatan kebaikan seiring bertambahnya umur. Jika hal itu terjadi, kehidupan menjadi lebih baik dibandingkan kematian.

Karena itu, umat Islam dianjurkan untuk selalu memohon kepada Allah agar kehidupan menjadi sarana menambah amal saleh dan menjauhkan diri dari keburukan.

Khutbah ditutup dengan ajakan agar setiap waktu yang berlalu tidak dibiarkan kosong tanpa manfaat. Pergantian tahun menjadi pengingat bahwa usia terus berkurang dan kesempatan berbuat baik harus digunakan sebelum datangnya ajal.

Jamaah Jumat diajak menyambut tahun baru dengan semangat memperbaiki diri, memperbanyak ibadah, serta mengisi kehidupan dengan kegiatan yang membawa manfaat dunia dan akhirat.