Sektor keamanan siber mendapatkan perhatian khusus dalam proyek ini.

>>> Manchester United Mundur dari Perburuan Gelandang Elliot Anderson

AI dimanfaatkan untuk mendeteksi serangan siber, mengidentifikasi penyusupan jaringan, memperkuat enkripsi data, dan meningkatkan kapasitas perang siber modern.

Target Pembentukan Puluhan Unit Tempur AI

Agenda modernisasi pertahanan ini berjalan di bawah payung regulasi Defense Reform 4.0 atau Reformasi Pertahanan 4.0.

Pemerintah Korea Selatan menargetkan penyelesaian fase awal proyek ini pada akhir tahun 2027.

Korea Selatan memproyeksikan pembentukan sekitar 90 unit tempur berbasis AI sebelum memasuki tahun 2028.

Selain itu, sebanyak 16 fasilitas latihan simulasi cerdas ditargetkan mulai beroperasi pada tahun 2032 untuk melatih personel di era digital.

Komitmen ini dibarengi rencana peningkatan porsi anggaran teknologi AI dan sistem tanpa awak.

Alokasi dana yang semula sebesar 15% akan dinaikkan menjadi 20% dalam kurun waktu lima tahun ke depan.

Sejumlah pengamat mengingatkan bahwa transisi menuju militer berbasis AI menghadapi tantangan yang tidak ringan.

Anggaran 40 miliar won dinilai relatif kecil jika harus dibagi merata ke 20 kategori riset tingkat tinggi.

Faktor keamanan sistem AI di medan laga juga menjadi sorotan utama para pakar.

Teknologi tersebut dituntut harus kebal terhadap serangan siber, gangguan sinyal atau jamming, serta tangguh dalam kondisi operasional yang ekstrem.

Kecerdasan buatan dinilai dapat meminimalkan dampak krisis populasi terhadap lini pertahanan Korea Selatan.

>>> Korea Selatan Gagal Cetak Gol di Babak Pertama Lawan Ceko

Namun dalam jangka pendek, teknologi AI masih memegang peran sebagai pendukung prajurit dan belum menggantikan posisi tentara manusia sepenuhnya di medan tempur.