Di tengah banjir konten yang mengejar dopamin, acara realitas perjalanan hadir sebagai jeda bagi pemirsa yang lelah dengan rutinitas.

SBS melalui program terbarunya, "Sunim and Sonim: Soul Trip in India," membawa format tersebut selangkah lebih maju dengan menghadirkan kenyamanan dan bimbingan praktis dari biksu Buddha yang dihormati, Ven.

>>> Pameran Baru Telusuri Akar Regional Budaya K-Pop dan K-Drama

Pomnyun.

Tayang perdana pada 19 Mei, acara ini mengikuti perjalanan Ven.

Pomnyun bersama para anggota cast Noh Hong-chul, Lee Sang-yun, Lee Joo-bin, Lee Ki-taek, dan Woochan ke India untuk mencari "diri sejati" mereka.

Namun, yang tampak seperti acara realitas perjalanan segera berubah menjadi lebih serius, mendekati format dokumenter dan bentuk praktik spiritual.

Para anggota cast datang dengan koper besar, hanya untuk diminta meninggalkan sebagian besar barang bawaan dan membawa satu ransel—sebuah isyarat yang juga menunjuk pada pelepasan keinginan dalam istilah Buddhis.

Dengan hanya satu ransel, mereka menjelajahi India bukan sebagai turis biasa, melainkan sebagai peziarah spiritual, termasuk ke daerah-daerah di mana kesulitan paling terlihat.

Acara ini menjadi perjalanan antara seorang biksu dan tamu-tamunya saat mereka berusaha menjauh dari gejolak batin dan mendekati "diri sejati."

Kenyamanan Manusia di Era Nasihat AI

Di pusat acara ini adalah Ven. Pomnyun, salah satu biksu Buddha paling terkenal di Korea, yang dikenal luas melalui "Ven.

Pomnyun's Dharma Q&A talks" di mana ia menanggapi kekhawatiran orang dengan nasihat praktis.

Kata-katanya memberikan tulang punggung emosional program ini.

Ketika para anggota cast terlihat terguncang setelah melihat anak-anak mengemis di jalan, sang biksu menawarkan perspektif yang mengusik simpati mudah: "Orang tidak menjadi pengemis hanya karena mereka miskin.