Fenomena Balap Liar Remaja: Gengsi dan Pencarian Jati Diri Jadi Pemicu
JAKARTA — Aksi balap liar di kalangan remaja seolah tidak pernah ada habisnya. Meski sudah sering memakan korban jiwa dan menyebabkan kecelakaan fatal, praktik berbahaya ini masih terus terjadi.
Penegakan hukum dan pembubaran oleh kepolisian dinilai belum memberikan efek jera yang maksimal. Banyak pelaku tetap nekat memacu kendaraannya di jalan umum tanpa memikirkan keselamatan.
>>> ESSA Kembali Operasikan Pabrik Amoniak Banggai Secara Penuh
Gengsi dan Pencarian Jati Diri
Agus Sani, Head of Safety Riding Promotion Wahana, mengungkapkan bahwa fenomena ini erat kaitannya dengan ego dan psikologis remaja yang masih labil.
"Menurut saya, karena banyak pelaku yang lebih mengutamakan adrenalin dan gengsi dibanding memikirkan risikonya. Sebab biasanya mereka anak-anak muda yang masih mencari jati diri," ujarnya kepada Kompas.
com, Selasa (9/6/2026).
Agus menambahkan, para pelaku balap liar sering memiliki pola pikir yang keliru mengenai potensi bahaya di jalan raya.
Mereka merasa memiliki kemampuan penuh atas kendaraannya dan kebal dari musibah.
>>> Bank Indonesia: Indeks Keyakinan Konsumen Mei 2026 Tetap di Zona Optimis
"Mereka sering merasa kecelakaan tidak akan menimpa dirinya.
Padahal faktanya, balap liar sangat berbahaya dan korbannya bukan hanya pelaku, tapi juga pengguna jalan lain yang tidak bersalah," kata Agus.
Efek Jera dan Solusi
Kesadaran biasanya baru muncul secara terlambat ketika pelaku atau lingkungan terdekatnya sudah mengalami dampak fatal secara langsung, misalnya cacat fisik.
"Mungkin kalau sudah cacat, misal ada yang diamputasi, baru sadar. Setidaknya bisa mikir akibatnya karena bisa lihat langsung akibat dari balap liar itu," ucap Agus.
Untuk memberantas fenomena ini, Agus menilai tidak bisa hanya mengandalkan satu aspek saja. Perlu sinergi dari berbagai pihak untuk memberikan edukasi sekaligus fasilitas yang tepat.
>>> BSI Catat Pembiayaan Cicil Emas Tumbuh 97,9 Persen Hingga April 2026
"Untuk mengurangi balap liar, saya kira perlu adanya kombinasi antara penegakan hukum, edukasi, dan penyediaan wadah positif bagi anak muda yang memiliki minat di dunia balap, agar meminimalisir adanya balap liar di jalan raya," kata Agus.
Update Terbaru
Yandex Luncurkan Solusi AI untuk Operator Telekomunikasi Indonesia
Rabu / 10-06-2026, 12:45 WIB
Bank Mandiri Salurkan KUR Rp30 Juta Tanpa Agunan Tambahan
Rabu / 10-06-2026, 12:45 WIB
Harga Pertamax Naik Tajam, Warga Gresik Serbu Pertalite
Rabu / 10-06-2026, 12:44 WIB
Pemerintah Perpanjang Penyaluran Bantuan Beras 3 Bulan, CORE Usul Ubah Skema
Rabu / 10-06-2026, 12:44 WIB
Menteri UMKM Siapkan Mitigasi Dampak Pelemahan Rupiah untuk Perajin Tahu Tempe
Rabu / 10-06-2026, 12:44 WIB
Pemerintah Selesaikan Hunian Relokasi Warga Bantaran Rel Senen
Rabu / 10-06-2026, 12:44 WIB
Cara Mudah Menggunakan TikTok Paylater untuk Belanja Cicilan
Rabu / 10-06-2026, 12:44 WIB
Wacana Penyesuaian Iuran JKN Kembali Mengemuka, Ekonom Soroti Efisiensi
Rabu / 10-06-2026, 12:41 WIB
Studi: Makin Banyak Gigi Hilang, Risiko Meninggal Lebih Cepat Naik
Rabu / 10-06-2026, 12:41 WIB
Korlantas Polri Ungkap Arti Perbedaan Warna Sampul BPKB Kendaraan
Rabu / 10-06-2026, 12:40 WIB
Kios Burger di Blackpool Pertahankan Harga 1 Euro Selama 20 Tahun
Rabu / 10-06-2026, 12:40 WIB
Korlantas Polri Bedakan Warna Sampul BPKB Sesuai Jenis Kendaraan
Rabu / 10-06-2026, 12:40 WIB
Nilai Tukar Rupiah Melemah Tipis ke Level Rp17.965 Per Dolar AS
Rabu / 10-06-2026, 12:40 WIB
Mantan Pemulung Nasikhin Raih Gelar Doktor Cumlaude di UIN Walisongo
Rabu / 10-06-2026, 12:40 WIB






