Harga Bitcoin (BTC) mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan setelah sempat merosot hingga di bawah level US$ 60.000 pada Jumat lalu.

Sejumlah analis menilai pergerakan kripto nomor satu ini akan bergantung pada beberapa level harga kunci.

>>> Pemerintah Siapkan Forum Family Office di Bali untuk Tarik Modal Asing

Kondisi pasar yang sudah terlalu jenuh jual dinilai membuka peluang terjadinya reli pemulihan yang tajam.

Momentum ini berpotensi terjadi jika data inflasi melunak serta arus keluar dari ETF mulai melambat.

"Pasar sudah terlalu jenuh jual sehingga memungkinkan terjadinya reli pemulihan yang tajam, terutama jika data inflasi melunak dan arus keluar ETF melambat," kata analis di HEX Trust dalam sebuah email, dikutip coindesk.

Meski demikian, Bitcoin dinilai perlu merebut kembali level harga antara US$ 79.000 hingga US$ 80.000 agar bisa bergeser menuju tren penguatan yang lebih meyakinkan.

Jika harga masih berada di bawah US$ 80.000, pergerakan tersebut cenderung dianggap sebagai koreksi sementara dalam pasar bearish yang lebih luas yang sudah dimulai sejak tahun lalu.

Kenaikan baru yang lebih kuat hanya akan ditandai jika harga mampu bergerak di atas angka tersebut.

"Secara teknis, pemulihan hingga US$ 68.000 dapat dilihat sebagai rebound dari momentum penurunan yang terlihat antara 11 Mei dan 5 Juni," kata Alex Kuptsikevich, kepala analis di FxPro.

Prospek reli hingga ke tingkat tersebut sangat bergantung pada aliran dana ETF serta faktor makroekonomi.

>>> Aplikasi Penghasil Saldo DANA 2026: Peluang Pendapatan Tambahan via Smartphone

Dalam empat minggu terakhir, sebelas ETF Bitcoin spot yang terdaftar di Amerika Serikat mencatat penarikan dana lebih dari US$ 5 miliar.