Serangan jantung masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia. Namun, gejala yang muncul pada perempuan sering kali berbeda dengan laki-laki, sehingga menyebabkan keterlambatan deteksi.

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Mayapada Hospital Jakarta Selatan, dr. Ika K Dhanudibroto, Sp. JP, SubSp.

>>> Roberto Martinez Tolak Label Favorit Timnas Portugal di Piala Dunia

KI (K), FIHA, mengingatkan masyarakat untuk waspada terhadap sinyal tubuh yang tidak biasa.

Menurut dr. Ika, pasien perempuan cenderung mengalami tanda-tanda yang tidak selalu sesuai dengan indikasi klasik serangan jantung.

Hal ini membuat banyak perempuan mengabaikan keluhan atau menganggapnya sebagai penyakit ringan.

"Perempuan kerap mengalami gejala yang terasa tidak berhubungan dengan serangan jantung, sehingga mereka cenderung tidak menyadarinya atau menunda untuk memeriksakan diri," kata dr. Ika.

Gejala serangan jantung yang umum dikenal adalah nyeri dada seperti tertekan atau tertindih beban berat.

Rasa tidak nyaman ini biasanya disertai sesak napas dan nyeri yang menjalar ke leher, rahang, bahu, punggung atas, perut atas, hingga lengan.

Namun, dr. Ika menegaskan bahwa nyeri dada tidak selalu menjadi awal dari setiap serangan jantung. Pada beberapa kasus, pasien bisa mengalami serangan tanpa gejala klasik tersebut.

Pada perempuan, gejala yang muncul sering tidak khas, seperti mual, muntah, keringat dingin, pusing, kehilangan keseimbangan, kelelahan yang tidak biasa, hingga rasa terbakar di dada yang kerap disalahartikan sebagai gangguan pencernaan.

Rasa mual dan muntah sering membuat pasien mengira itu gangguan lambung. Sementara kelelahan ekstrem dianggap akibat aktivitas harian yang padat.

>>> OJK Minta Pasar Rasional Tanggapi Seruan Jual Saham Indonesia

Padahal, kondisi tersebut bisa menjadi tanda adanya hambatan aliran darah ke jantung.