Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melesat 7,57% ke posisi 5.746 pada perdagangan Selasa (9/6/2026).

Lonjakan ini dipicu oleh penguatan signifikan pada saham-saham bank berkapitalisasi besar.

>>> Perbankan Malaysia Perluas Ekspansi Bisnis di Indonesia

Sepanjang hari, IHSG bergerak dinamis setelah sempat menyentuh level terendah 5.318 pada pembukaan. Performa kuat di sesi penutupan membawa indeks ke level tertinggi hariannya.

Aktivitas pasar tercatat sangat padat dengan volume transaksi mencapai 45,11 miliar saham dan nilai transaksi Rp28,01 triliun.

Frekuensi perdagangan sebanyak 2,71 juta kali, dengan 678 saham menguat, 89 melemah, dan 48 stagnan.

Sektor Barang Baku dan Energi Pimpin Penguatan

Sektor barang baku menjadi motor utama dengan kenaikan 9,97%, disusul sektor energi naik 9,19%, dan sektor perindustrian menguat 8,55%.

Kenaikan ini ditopang saham big caps seperti BBRI, BMRI, BBCA, dan BBNI.

Saham BBRI menguat 7,72% ke Rp2.790 dengan volume 870 juta saham bernilai lebih dari Rp2 triliun.

BMRI melonjak 10,24% ke Rp4.090 setelah memperdagangkan 484 juta saham senilai Rp1,87 triliun.

>>> DPR Soroti Disparitas Harga Obat Kimia Farma yang Capai 500 Persen

Sepuluh saham penyumbang poin terbesar terhadap IHSG antara lain BBRI (31,53 poin), BMRI (29,89 poin), TLKM (28,34 poin), BBCA (28,25 poin), dan SMMA (21,08 poin).

Di indeks LQ45, saham CUAN melonjak 21%, SCMA naik 16,2%, AMRT menguat 14,2%, dan ANTM naik 13,8%.

Emiten lain seperti INKP, BUMI, WIFI, dan DEWA juga mencatat kenaikan di atas 12%.

Tiga Stimulus Utama Pendorong Pasar

Menurut riset BRI Danareksa Sekuritas, ada tiga faktor utama yang memicu penguatan IHSG. Pertama, kenaikan BI Rate sebesar 25 bps menjadi 5,5% untuk menjaga stabilitas rupiah.

Kedua, pembicaraan intensif antara DPR, Danantara, Himbara, BPJS, dan asuransi BUMN terkait rencana buyback saham bank Himbara. Ketiga, kepastian pemerintah tidak menggunakan gross split dalam skema ekspor.

Secara teknikal, IHSG ditutup di atas MA-5 dan berhasil menutup gap up.

Indikator Stochastic RSI menunjukkan golden cross di area oversold, sehingga indeks diproyeksikan bergerak dalam rentang 5.600–5.850.

>>> Kebijakan BI Naikkan Suku Bunga Acuan Berpotensi Perkuat Rupiah

Kendati demikian, pelaku pasar tetap mencermati situasi geopolitik Timur Tengah, tekanan makroekonomi domestik, dan kondisi cadangan devisa negara.