"Walaupun posisi cadangan devisa saat ini masih tergolong kuat dan berada jauh di atas standar kecukupan internasional, ruang gerak kebijakan secara bertahap menjadi lebih sempit dibandingkan awal tahun," tutur Yusuf.

Yusuf menyebut beberapa faktor yang perlu diwaspadai, seperti defisit transaksi berjalan kuartal I-2026, arah kebijakan moneter AS, ketidakpastian geopolitik, dan ketergantungan pada modal portofolio asing.

Dana portofolio asing bersifat sensitif terhadap perubahan sentimen.

Tekanan berkelanjutan berisiko menurunkan cadangan devisa hingga US$ 130-135 miliar pada akhir tahun jika BI terus melakukan intervensi.

Namun, stabilitas pasar diperkirakan membaik seiring kenaikan suku bunga acuan dan instrumen penarik dana asing.

>>> Kebocoran Pipa Tirtanadi Ganggu Aliran Air di Sejumlah Wilayah Medan

"Kenaikan suku bunga dan berbagai instrumen penarik dana asing mulai membantu menjaga arus modal masuk, sehingga kebutuhan intervensi dapat berkurang dan penurunan cadangan devisa berpotensi melambat pada semester II-2026," jelas Yusuf.