Pengalaman krisis Asia 1997-1998 dan berbagai episode gejolak pasar keuangan global menunjukkan bahwa fondasi ekonomi yang terlalu bergantung pada arus modal jangka pendek sangat rentan terhadap perubahan sentimen investor internasional.

Masalah lain adalah kecenderungan membuka diri terhadap globalisasi tanpa menyiapkan fondasi domestik yang memadai.

Integrasi perdagangan dan keuangan global membawa manfaat, tetapi tidak selalu terdistribusi merata jika kapasitas produksi nasional, penguasaan teknologi, ketahanan pangan, dan ketahanan energi belum cukup kuat.

>>> Ekspor China Melonjak 19 Persen Berkat Permintaan Perangkat AI

Membangun Kemandirian

Agenda kemandirian yang saat ini mulai didorong pemerintah dapat dipahami sebagai koreksi strategis terhadap kelemahan struktural yang belum terselesaikan.

Kemandirian pangan, energi, dan teknologi merupakan upaya memperkuat fondasi ekonomi agar tidak terlalu rentan terhadap gejolak eksternal.

Kemandirian bukan berarti menutup diri dari perdagangan internasional atau menolak investasi asing.

Sebaliknya, kemandirian berarti membangun kemampuan domestik yang cukup kuat sehingga hubungan dengan dunia internasional berlangsung dalam posisi yang lebih setara.

Negara tetap terbuka terhadap perdagangan, investasi, dan kerja sama global, tetapi tidak lagi berada dalam posisi ketergantungan yang berlebihan.

Agenda kemandirian ekonomi perlu disertai dengan pembangunan semangat nasionalisme ekonomi yang sehat.

Nasionalisme ekonomi bukanlah sikap anti-asing, melainkan keberpihakan rasional terhadap kepentingan nasional.

Bentuknya dapat berupa kebanggaan menggunakan produk dalam negeri, dukungan terhadap industri nasional, peningkatan penggunaan komponen lokal, serta kecintaan terhadap mata uang rupiah.

Negara-negara yang berhasil melakukan lompatan pembangunan, seperti Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok, tidak hanya memiliki kebijakan industri yang tepat, tetapi juga masyarakat yang memiliki kepercayaan tinggi terhadap kemampuan bangsanya sendiri.

Pada akhirnya, kekuatan sebuah negara tidak ditentukan oleh seberapa kuat mata uangnya, melainkan oleh seberapa besar kemampuannya memenuhi kebutuhan strategisnya sendiri.