Pentingnya Mengubah Strategi Pembangunan Ekonomi Menuju Kemandirian
Dalam sepak bola, kemenangan sering ditentukan oleh keberanian mengubah strategi. Logika yang sama berlaku dalam pembangunan ekonomi.
Ketika lingkungan global berubah, sebuah negara perlu berani mengevaluasi strategi yang selama ini dijalankan. Tujuannya bukan menafikan keberhasilan masa lalu, melainkan memastikan pembangunan mampu menjawab tantangan masa depan.
>>> Ibu Hamil Wajib Hindari Paparan BPA Demi Cegah Gangguan Hormon Anak
Selama puluhan tahun, Indonesia mengejar pertumbuhan ekonomi dengan keyakinan bahwa keterbukaan pasar, investasi, dan integrasi global akan membawa kemakmuran.
Sebagian keberhasilan memang tercapai.
Namun, semakin sering dunia diguncang krisis, semakin jelas bahwa pertumbuhan ekonomi tidak selalu identik dengan ketahanan ekonomi.
Pertanyaan yang perlu dijawab bukan lagi bagaimana meningkatkan pertumbuhan setinggi mungkin, melainkan bagaimana membangun pertumbuhan yang lebih mandiri.
Negara yang terlalu bergantung pada pangan impor, energi impor, teknologi impor, dan modal asing akan selalu rentan terhadap gejolak dari luar batas negaranya sendiri.
Kekuatan Ekonomi yang Rapuh
Selama beberapa dekade, strategi pembangunan nasional berhasil menciptakan pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi. Namun, keberhasilan tersebut dibangun di atas sejumlah asumsi yang menyimpan kerentanan.
Industrialisasi berkembang, tetapi sebagian besar masih bergantung pada bahan baku, komponen, mesin, dan teknologi impor.
Akibatnya, ketika nilai tukar rupiah melemah atau rantai pasok global terganggu, biaya produksi nasional melonjak dan daya saing industri tertekan.
Ketergantungan juga terjadi pada pembiayaan pembangunan. Indonesia cukup lama mengandalkan arus modal asing untuk menutup kebutuhan investasi domestik.
Defisit transaksi berjalan yang berulang kali terjadi sering ditutup melalui masuknya modal portofolio jangka pendek.
Dalam kondisi normal, strategi ini menyediakan likuiditas, tetapi ketika terjadi gejolak global, modal yang masuk dengan cepat dapat keluar dengan cepat.
Update Terbaru
Wasit Somalia Ditolak Masuk AS, Batal Pimpin Piala Dunia 2026
Selasa / 09-06-2026, 13:13 WIB
50 Pertanyaan Edukasi untuk Cegah Bullying di Sekolah dan Lingkungan
Selasa / 09-06-2026, 13:13 WIB
Krisis Memori AI Dorong Harga Kartu Grafis Kelas Menengah Naik Hingga 30 Persen
Selasa / 09-06-2026, 13:12 WIB
Ribuan Penyandang Disabilitas Nobar Film Inklusif di Tujuh Kota
Selasa / 09-06-2026, 13:12 WIB
Kemensos Buka 3.053 Formasi Guru Sekolah Rakyat 2026 untuk PPPK
Selasa / 09-06-2026, 13:12 WIB
DPR RI Sahkan RUU Kepolisian Menjadi Undang-Undang
Selasa / 09-06-2026, 13:12 WIB
William Saliba Dipastikan Fit Bela Timnas Prancis di Piala Dunia 2026
Selasa / 09-06-2026, 13:12 WIB
Tanggal Berapa Malam 1 Suro 2026? Cek Jadwal dan 8 Mitos yang Masih Dipercaya
Selasa / 09-06-2026, 13:12 WIB
Katy Perry Siap Guncang Panggung Eropa Lewat The Lifetimes Tour
Selasa / 09-06-2026, 13:09 WIB
Kemenkomdigi Targetkan Lelang Spektrum 5G Rampung Sebelum 17 Agustus 2026
Selasa / 09-06-2026, 13:09 WIB
Ariana Grande dan Ethan Slater Putus Setelah 3 Tahun Pacaran
Selasa / 09-06-2026, 13:09 WIB
FINI Soroti Aturan Ekspor Feronikel Satu Pintu Lewat Danantara
Selasa / 09-06-2026, 13:08 WIB
Muhasabah Menjelang Tahun Baru Hijriah: Momentum Evaluasi Diri
Selasa / 09-06-2026, 13:08 WIB
Penggemar BTS Padati Warnet di Jakarta Jelang Penjualan Tiket Konser
Selasa / 09-06-2026, 13:08 WIB






