"Bangunan dapat dirancang agar lebih tahan terhadap guncangan gempa, tetapi sangat sulit merancang struktur yang mampu bertahan terhadap pergeseran permukaan tanah hingga beberapa meter akibat pergerakan sesar," kata Danny.

Sejumlah negara maju telah memberlakukan regulasi ketat mengenai pembatasan pembangunan di sepanjang area sesar aktif. Kebijakan tersebut sudah diterapkan di Taiwan, Jepang, Selandia Baru, dan Amerika Serikat.

Penerapan kebijakan serupa di Indonesia masih menghadapi kendala besar karena keterbatasan data detail mengenai lokasi dan karakteristik sesar aktif.

"Risiko merupakan fungsi dari bahaya, paparan, dan kerentanan.

>>> Harga Emas Antam di Pegadaian Turun pada 9 Juni 2026, Simak Daftar Lengkapnya

Karena itu, peningkatan kualitas data bahaya, termasuk pemetaan sesar aktif dan pemahaman siklus gempa serta tsunami, menjadi fondasi penting untuk penilaian risiko yang lebih akurat," ungkapnya.