Sistem baru ini langsung memicu respons positif dari para pencinta basket sejak laga pembuka semifinal antara Satria Muda Pertamina melawan Bogor Hornbills di Bandung Arena.

Angka penjualan tiket pada fase ini bahkan melampaui prediksi awal penyelenggara.

"Untuk game pertama hari Jumat menurut saya sangat baik. Bahkan saya sempat mengecek ke tim Satria Muda, penjualan tiketnya sudah di atas 70 persen.

Ini menunjukkan fans tidak lagi hanya menunggu pertandingan penentuan, tetapi sejak game pertama mereka sudah antusias," imbuh Junas.

Format best of five ini turut memberikan keuntungan taktis bagi tim yang tampil impresif sepanjang musim reguler.

Klub dengan peringkat lebih tinggi berhak mendapatkan jatah pertandingan kandang yang lebih banyak.

"Kehadiran penonton di setiap pertandingan menjadi semakin penting.

Jika tren ini bisa terus dipertahankan, dampaknya akan sangat baik untuk liga, tim, dan keseluruhan ekosistem basket Indonesia," tutur Junas.

Walau sempat muncul wacana penggunaan format best of seven, IBL memilih melakukan perubahan secara gradual. Pihak regulator tetap mengedepankan analisis matang pada berbagai sektor sebelum mengetok palu kebijakan.

>>> Indonesia Dance Company Rayakan 10 Tahun dengan Pentas Balet The Gala

"Secara regulator sebenarnya tidak sulit menambah jumlah pertandingan. Tinggal ditetapkan menjadi lima atau tujuh game.

Tetapi kami harus punya dasar pertimbangan yang kuat," ucap Junas.

Faktor keberlanjutan bisnis dari setiap klub menjadi atensi utama.

Pihak pengelola liga tidak ingin penambahan kuantitas pertandingan justru menjadi beban finansial baru bagi tim peserta jika tidak diimbangi pendapatan tiket.

"Kalau ticketing bagus, tentu akan semakin menguntungkan karena jumlah game bertambah.

Tetapi kalau belum siap, justru hanya akan menambah kerugian bagi tim, dan itu yang ingin kami hindari," ungkap Junas.