Bank Indonesia (BI) dan Kementerian Keuangan memperkuat sinergi kebijakan moneter dan fiskal guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global.

Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan koordinasi ini difokuskan pada keselarasan langkah kedua otoritas sesuai kewenangan masing-masing.

>>> Bitget Luncurkan Bitget Stocks 2.0 untuk Perluas Tokenisasi Saham

"Penguatan koordinasi fiskal-moneter itu terus kita lakukan dan saat ini memang difokuskan bagaimana fiskal dan moneter seirama, saling mendukung dan saling memperkuat dengan kewenangan masing-masing untuk memperkuat upaya-upaya bersama melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah," ujar Perry Warjiyo.

Dua Fokus Utama Sinergi

Langkah pertama adalah meningkatkan daya tarik imbal hasil pada instrumen keuangan domestik. Kebijakan ini bertujuan mendorong aliran modal asing portofolio masuk kembali ke pasar keuangan Indonesia.

"Oleh karena itu fiskal dan moneter sepakat untuk sama-sama meningkatkan daya tarik timbal hasil sehingga inflows kembali masuk lebih besar dan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah," kata Perry.

>>> Sufmi Dasco Pimpin Rapat Koordinasi Ekonomi Bahas Fiskal dan Moneter

Fokus kedua adalah menjaga ketersediaan likuiditas di pasar uang melalui integrasi pengelolaan kas negara. Pengelolaan kas pemerintah pusat dilakukan secara cermat bersamaan dengan operasi moneter BI.

Penataan ini memastikan kebutuhan likuiditas perbankan terpenuhi tanpa mengganggu efisiensi kebijakan moneter. Remunerasi atau bunga yang disetorkan BI ke pemerintah juga disesuaikan untuk menjaga keseimbangan ekonomi.

"Operasi moneter tetap berjalan untuk mendukung stabilitas nilai tukar rupiah, sementara operasi fiskalnya juga mendukung. Dua hal itu yang kami lakukan bersama," ujar Perry.

>>> Mahasiswa Unram Ciptakan Nuramma, Aplikasi AI untuk Hafal Al-Qur'an

Melalui langkah strategis ini, BI meyakini keterpaduan kedua otoritas menjadi instrumen krusial untuk menyokong pertumbuhan ekonomi domestik jangka panjang.