Teknologi kecerdasan buatan (AI) kini mulai mengambil alih peran manusia dalam sektor finansial, khususnya penagihan utang.

Sejumlah agensi penagihan utang di Amerika Serikat mengintegrasikan agen AI berbasis chatbot suara untuk menghubungi nasabah yang terlambat membayar.

>>> Panache Digital Games Umumkan Game Baru 1666 Amsterdam, Karya Eks Kreator Assassin's Creed

Sistem otomatis ini dirancang untuk berinteraksi layaknya manusia, melakukan penagihan, hingga memberikan opsi penyelesaian pembayaran secara mandiri.

Sebuah bot bernama Eve sempat menelpon seorang pria bernama Ben untuk menagih tunggakan sewa sebesar 266 dolar AS (sekitar Rp4,7 juta).

Meskipun Ben menyatakan kewajibannya telah lunas, Eve tetap menawarkan pelunasan melalui kartu atau transfer bank.

Saat Ben sengaja memancing dengan percakapan tidak biasa, sistem tetap merespons tenang sebelum mengalihkan ke petugas manusia.

Fleksibilitas dan Kekhawatiran

Keunggulan utama teknologi ini adalah fleksibilitas menyesuaikan gaya bicara dengan target telepon. Pengembang mengonfigurasi aksen, intonasi, dan gaya bahasa berdasarkan profil nasabah.

AI mampu membedakan aksen bahasa Spanyol untuk nasabah di Meksiko dan Kolombia.

Sistem juga dapat mengenali kondisi darurat seperti kebangkrutan, gangguan kesehatan, atau duka keluarga, lalu segera mengalihkan panggilan ke staf manusia.

Beberapa korporasi menyusun profil psikografis nasabah dari rekam jejak komunikasi untuk pendekatan yang lebih personal.

Dibandingkan manusia, AI dinilai lebih santun, tidak emosional, dan bisa beroperasi 24 jam tanpa lelah.

>>> TWS Rilis Lagu Dream With Us untuk Dukung Timnas Korea Selatan di Piala Dunia 2026

Namun, pakar hukum dan akademisi menyuarakan kekhawatiran. Susan Shin, Direktur Hukum New Economy Project, memperingatkan bahwa AI memungkinkan perusahaan mendongkrak volume penagihan secara eksponensial.