Rencana Google untuk melepaskan 32 juta nyamuk yang terinfeksi bakteri Wolbachia di Florida dan California menuai protes keras dari warga Amerika Serikat.

Proyek bernama Debug Project ini bertujuan menekan populasi nyamuk Aedes aegypti, vektor utama demam berdarah dan virus Zika.

>>> Setlist Konser EXhOrizon EXO di Indonesia Arena 6 dan 7 Juni 2026

Google masih menunggu izin dari U. S.

Environmental Protection Agency (EPA). Masa masukan publik dibuka hingga 5 Juni dan dibanjiri kritik.

"Tanyakan pada diri Anda, siapa yang paling diuntungkan dari ini, dan mengapa ini dilakukan," ujar seorang warga tanpa nama.

Warga lain bernama Brooke Davis menyebut ide ini mengerikan dan memalukan karena membiarkan perusahaan miliaran dolar mengubah ekosistem asli AS.

Cara Kerja dan Risiko Debug Project

Dalam Debug Project, nyamuk jantan diinfeksi bakteri Wolbachia sehingga sperma tidak dapat membuahi telur nyamuk betina sehat.

>>> Google dan YouTube Luncurkan Fitur Keamanan Digital Anak di Jakarta

Metode ini memutus rantai reproduksi secara bertahap.

Namun, penelitian tahun 2024 dari University of California dan ilmuwan Kolombia menunjukkan risiko fatal jika terjadi kesalahan pelepasan.

Kesalahan operasional bisa menyebarkan materi genetik berbahaya ke alam liar.

Tantangan lain adalah migrasi nyamuk liar dari kawasan sekitar, sehingga Google harus melepas nyamuk terinfeksi setiap minggu.

Jika nyamuk betina ikut terlepas, efek sterilisasi bisa netral.

>>> Eks ART Bantah Langgar Privasi Anak Erin dan Andre Taulany

Google telah merancang AI pemisah jenis kelamin, tetapi Vector Control Advisory Group belum merekomendasikannya karena tingkat kontaminasi betina masih 0,3% pada 2024.