Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terus melemah membuat kapitalisasi pasar di Bursa Efek Indonesia (BEI) terkikis signifikan.

Pada penutupan perdagangan sesi I, kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp10.038 triliun.

>>> Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa Tanggapi Rumor Penurunan Rating Indonesia

Angka tersebut menyusut drastis jika dibandingkan dengan posisi awal tahun.

Pada 2 Januari 2026, kapitalisasi pasar BEI masih berada di level Rp16.014 triliun atau setara US$957 miliar.

Sehari sebelumnya, kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp10.263 triliun atau setara US$569 miliar. Artinya, dalam sepekan terakhir terjadi penurunan sekitar Rp225 triliun.

Meskipun telah menguap sekitar Rp5.700 triliun, kapitalisasi pasar modal Indonesia masih tergolong tinggi di kawasan Asia Tenggara.

Berdasarkan data CEIC dan Singapore Stock Exchange per April 2026, Singapura mencatatkan kapitalisasi pasar sebesar US$879,48 miliar.

Bursa Malaysia mengantongi US$511,51 miliar, sementara Filipina sebesar US$310,5 miliar pada periode yang sama.

Untuk Bursa Vietnam, data per Mei 2026 menunjukkan kapitalisasi pasar mencapai US$348,3 miliar, yang didominasi oleh Ho Chi Minh Stock Exchange.

Indeks SET Thailand saat ini memiliki kapitalisasi pasar sebesar 20,15 triliun baht atau berkisar US$620 miliar.

Kondisi pasar modal dalam negeri terasa kontras karena beberapa bursa global justru mampu mencetak rekor baru secara berkala.

Faktor Pemicu Kekhawatiran Investor Global

Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, menilai situasi ini merefleksikan keraguan pelaku pasar terhadap aspek fundamental tertentu.

>>> Profil Audrey Jesslyn Selebgram yang Resmi Menikah dengan Hassan Alaydrus di KUA Tebet: Umur, Agama dan Akun IG

"Menurut kami, pasar saat ini tidak lagi mempertanyakan kemampuan Indonesia untuk tumbuh, melainkan mempertanyakan kredibilitas Indonesia," ucap Liza.