Interaksi anak dengan teknologi dan internet kini hadir di setiap aspek kehidupan. Pola pengasuhan yang rumit tidak selalu dibutuhkan untuk menciptakan lingkungan digital yang sehat di rumah.

Product Marketing Manager, Brand & Reputation, Google Indonesia, Dora Songco, menyatakan bahwa langkah pengasuhan dapat dimulai dari kebiasaan kecil di rumah.

>>> Kementerian ESDM Targetkan PLTA Batang Toru Beroperasi Oktober 2026

Hal ini termasuk perilaku orangtua saat berinteraksi dengan gawai di depan anak.

"Anak adalah peniru ulung.

Mau ngomong sampai berbusa kalau kitanya tidak berubah, anak akan melihat (apa yang kita lakukan)," ujar Dora dalam press briefing Google Indonesia bertajuk "AKSIDigital: Ruang Tumbuh Keluarga Indonesia" di Jakarta, Kamis (4/6/2026).

Sikap orangtua saat memegang gawai akan diamati secara langsung. Anak akan merekam dan mencontoh setiap tindakan tersebut dalam kesehariannya.

Komunikasi Dua Arah Kunci Utama

Komunikasi dua arah menjadi awal utama dalam membangun hubungan yang sehat antara anak dan teknologi. Orangtua perlu hadir sebagai teman diskusi daripada memposisikan diri sebagai pengawas yang kaku.

Orangtua bisa duduk bersama di ruang keluarga untuk menonton tayangan yang disukai anak.

Melalui aktivitas ini, orangtua dapat memahami alasan di balik minat anak terhadap suatu konten tanpa langsung menghakimi.

"Kita cari tahu sebenarnya kenapa sih anak itu tertarik sama tontonannya, sama konten-kontennya. Baru habis itu kita kasih batasan-batasannya," ungkap Psikolog Klinis Dewasa Marsha Tengker, M.

Psi. , Psikolog.

Psikolog yang akrab disapa Caca itu melanjutkan, validasi atas perasaan dan minat anak sangat diperlukan agar mereka merasa dihargai.

Kesepakatan terkait durasi pemakaian gawai akan diterima dengan lebih lapang dada jika fondasi kedekatan emosional sudah terbentuk.