Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali dibuka melemah pada perdagangan Kamis, 4 Juni 2026.

Indeks langsung merosot 66,37 poin atau 1,12 persen ke level 5.874,70.

>>> 5 Dampak Pembatasan Ritel Modern 2026 yang Mengejutkan Publik dan Konsumen

Pada sesi awal, IHSG bergerak fluktuatif dengan tertinggi di 5.924,51 dan terendah 5.873,00. Sebanyak 334 saham tercatat melemah, sementara hanya 107 saham menguat.

Nilai transaksi pada pembukaan mencapai Rp470,1 miliar dengan volume 580,2 juta lembar saham. Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia menyusut menjadi Rp10.311 triliun.

Sentimen Global Menekan

Pelemahan IHSG dipicu oleh koreksi bursa Wall Street dan kenaikan harga minyak mentah dunia. Penguatan dolar AS juga menekan aset berisiko di pasar emerging market.

Bursa Asia mayoritas melemah: Kospi Korea Selatan turun 2 persen, Nikkei 225 Jepang melemah 1,4 persen, dan S&P/ASX 200 Australia turun 0,84 persen.

Sementara Kosdaq justru menguat 2 persen.

>>> Porsi CASA BCA Tembus 84,97% per April 2026, Bukti Kepercayaan Nasabah

Kondisi ini diperparah aksi jual bersih investor asing pada perdagangan sebelumnya yang mencapai hampir Rp1 triliun. IHSG sebelumnya anjlok 4,11 persen pada penutupan Rabu (3/6/2026).

Pemerintah Bertemu S&P Global

Di tengah tekanan pasar, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menerima kunjungan perwakilan Standard & Poor's (S&P) Global.

Pertemuan berlangsung di Jakarta pada Rabu, 3 Juni 2026.

Diskusi difokuskan pada prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia. Airlangga menekankan ketahanan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.

>>> IHSG Anjlok, Purbaya Sebut Rumor Downgrade S&P Jadi Pemicu

Pemerintah memaparkan sejumlah indikator positif, seperti inflasi terkendali, realisasi investasi tumbuh, dan program hilirisasi yang berjalan. Stabilitas ekonomi disebut sebagai hasil kebijakan fiskal dan moneter yang terukur.