Rupiah Nyaris Rp18.000 per Dolar AS, Begini Penjelasan Terbaru Bank Indonesia
Bank Indonesia (BI) akhirnya memberikan tanggapan resmi terkait kondisi nilai tukar rupiah yang terus merosot tajam terhadap dolar AS.
Saat ini, mata uang Garuda terpantau semakin mendekati angka psikologis Rp18.000 per dolar AS.
>>> Gagal Daftar NPWP di Coretax 2026? Pastikan Data Pekerjaan Sesuai KTP Agar Resmi Terverifikasi
Berdasarkan data perdagangan pada Rabu (3/6), rupiah bahkan sempat menyentuh rekor terlemah sepanjang sejarah di level Rp17.900.
Pelemahan ini menjadi perhatian serius bagi pelaku pasar dan masyarakat luas.
Pergerakan Rupiah di Pasar Spot
Mengutip data dari Bloomberg pukul 13.57 WIB, rupiah berada di posisi Rp17.954 per dolar AS.
Angka ini menunjukkan pelemahan sebesar 116 poin atau turun sekitar 0,65 persen dari penutupan sebelumnya.
Kondisi ini memicu kekhawatiran karena tren penurunan terjadi secara konsisten dalam beberapa waktu terakhir.
BI menegaskan akan terus memantau dinamika yang terjadi di pasar keuangan, baik secara global maupun domestik.
Strategi Bank Indonesia dalam Menjaga Stabilitas
Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menyatakan bahwa bank sentral akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan secara terukur.
Hal ini bertujuan untuk menjaga stabilitas nilai tukar serta memperkuat ketahanan ekonomi eksternal Indonesia.
BI juga berkomitmen untuk selalu hadir di pasar guna memastikan kecukupan likuiditas valuta asing (valas).
>>> Lauv Umumkan Hiatus demi Kesehatan Mental, Kabar Terbaru yang Mengejutkan Fans di 2026
Upaya ini dilakukan agar mekanisme pasar tetap berjalan dengan normal di tengah tekanan global.
Langkah konkret yang diambil BI untuk menstabilkan rupiah adalah sebagai berikut:
- Menerapkan kebijakan batas maksimal pembelian valas tunai tanpa underlying sebesar US$25 ribu per bulan bagi setiap pelaku pasar.
- Mengoptimalkan penggunaan seluruh instrumen kebijakan moneter untuk menjaga keseimbangan likuiditas valas di dalam negeri.
- Mendorong skema Local Currency Transaction (LCT) guna mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan dolar AS dalam transaksi internasional.
- Memperkuat sinergi dengan pemerintah dan otoritas terkait untuk memitigasi risiko gejolak ekonomi.
Update Terbaru
Peluang dan Tantangan Inovasi AI di Dunia Sepanjang 2026
Sabtu / 18-07-2026, 21:01 WIB
Euforia Piala Dunia 2026 Tak Cukup Selamatkan Ekonomi Meksiko
Sabtu / 18-07-2026, 21:01 WIB
Pelatih Spanyol Lebih Takut Naik Helikopter Dibanding Lawan Messi di Final Piala Dunia 2026
Sabtu / 18-07-2026, 21:01 WIB
Deschamps Akui Prancis dan Inggris Ogah Perebutan Tempat Ketiga, tapi Tetap Serius
Sabtu / 18-07-2026, 21:00 WIB
Dugaan Pelecehan Seksual di Grup Chat Unesa, 26 Mahasiswa dan Dosen Jadi Korban
Sabtu / 18-07-2026, 21:00 WIB
Mantan Menlu Hongaria Peter Szijjarto Mundur, Kini Jabat Eksekutif BYD
Sabtu / 18-07-2026, 21:00 WIB
Hasil Japan Open: Fajar/Fikri ke Final usai Menang Duel Menegangkan
Sabtu / 18-07-2026, 21:00 WIB
Tangga Lipat di Transmart Full Day Sale Diskon Nyaris Separuh Harga
Sabtu / 18-07-2026, 21:00 WIB
Bupati Siak Ngadu ke Gibran Soal DBH dan Utang Rp400 Miliar
Sabtu / 18-07-2026, 20:22 WIB
Kebakaran Hebat di Lereng Bukit Norwegia, Lebih dari 100 Rumah Ludes
Sabtu / 18-07-2026, 20:21 WIB
I’m Dating a Dark Summoner Rilis Trailer Perdana, Tayang Oktober 2026
Sabtu / 18-07-2026, 20:21 WIB
MAPPA Label CONTRAIL Buat Film Animasi untuk HUT ke-80 NAMICS
Sabtu / 18-07-2026, 20:21 WIB
Kaiju Girl Caramelise English Dub Kini Tersedia di Crunchyroll
Sabtu / 18-07-2026, 20:21 WIB
Bungo Stray Dogs WAN! Season 2 English Dub Kini Tersedia di Crunchyroll
Sabtu / 18-07-2026, 20:21 WIB







