CrowdStrike, perusahaan keamanan siber, mengungkapkan ancaman serius terhadap industri keuangan global.

Dalam Laporan Lanskap Ancaman Jasa Keuangan 2026, mereka mencatat peningkatan signifikan serangan siber yang memanfaatkan kecerdasan buatan (AI).

>>> Asus Luncurkan ProArt P16 dan P14 dengan Superchip Nvidia RTX Spark di Computex 2026

Kelompok peretas yang terafiliasi dengan Korea Utara berhasil mencuri aset digital senilai lebih dari 2 miliar dolar AS atau sekitar Rp33 triliun sepanjang 2025.

Angka ini meningkat 51 persen dibanding tahun sebelumnya.

Serangan ke Lembaga Keuangan Melonjak 43 Persen

CrowdStrike mencatat serangan langsung terhadap institusi keuangan meningkat 43 persen secara global dalam dua tahun terakhir. Di Amerika Utara, lonjakan mencapai 48 persen.

Para pelaku ancaman kini memanfaatkan identitas digital yang tampak sah, layanan cloud, dan aplikasi SaaS untuk menghindari sistem keamanan tradisional.

AI menjadi senjata utama untuk mempercepat serangan dan menyamar sebagai identitas tepercaya.

>>> Vertu AlphaFold: Ponsel Lipat Mewah dengan Asisten AI Hermes

Selain Korea Utara, aktivitas spionase siber yang terkait dengan China juga meningkat dan menyasar lembaga keuangan di berbagai negara, termasuk Indonesia dan Brasil.

Kelompok Peretas Korea Utara Catat Rekor Pencurian

Salah satu temuan mencolok adalah aksi kelompok PRESSURE CHOLLIMA yang bertanggung jawab atas pencurian kripto terbesar.

Mereka menguras aset senilai 1,46 miliar dolar AS melalui malware trojan yang disebarkan lewat celah keamanan rantai pasok perangkat lunak.

Sementara itu, GOLDEN CHOLLIMA menggunakan modus perekrutan kerja palsu untuk mengelabui korban. Mereka mengakses lingkungan cloud dan mencuri dana kripto dari perusahaan fintech di Asia Tenggara serta Kanada.

CrowdStrike menemukan bahwa kelompok peretas Korea Utara kini semakin agresif memanfaatkan teknologi AI untuk memperluas operasi mereka.

>>> Baseus Luncurkan Bowie MC2 Earbud Open-Ear dengan Baterai 55 Jam

Pemantauan terhadap lebih dari 280 kelompok ancaman siber menunjukkan sektor jasa keuangan menjadi salah satu target utama.