Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus melemah, hampir menyentuh angka Rp 18 ribu per dolar. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mengenai dampaknya terhadap industri otomotif nasional.

Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mengakui adanya tekanan, namun belum melihat perlunya kenaikan harga mobil secara langsung.

>>> Jadwal KRL Jogja-Solo 27 Mei 2026: Beroperasi Normal hingga Malam

Sekretaris Umum Gaikindo Kukuh Kumara menegaskan bahwa keputusan menaikkan harga tidak bisa dilakukan secara gegabah.

"Biasanya pelaku industri otomotif itu nggak segampang itu 'oh ini naik, hari ini kita (naikkan harga mobil)'.

Kan kita bukan kayak fast moving things, perlu penghitungan," ujar Kukuh di Jakarta, Senin (26/5).

Ia menjelaskan, kenaikan harga yang terburu-buru justru bisa membuat konsumen menahan pembelian. Akibatnya, stok kendaraan jadi, komponen, dan bahan baku akan menumpuk.

Industri otomotif memiliki rantai pasok panjang yang harus dijaga keseimbangannya.

Beberapa agen pemegang merek (APM) juga belum berencana menaikkan harga. Honda, misalnya, masih mempertahankan harga saat ini.

Menurut Sales & Marketing and After Sales Director PT Honda Prospect Motor (HPM) Yusak Billy, Honda diuntungkan oleh tingkat komponen dalam negeri (TKDN) yang tinggi.

>>> Tenaga Kesehatan Darurat Hadapi Risiko Kekerasan dan Burnout Tinggi

"Tentunya pelemahan rupiah sekarang ini memberi tekanan ya buat kami yang melakukan importasi, misalnya impor (CBU) ataupun komponen, juga kadang produksi buat bahan-bahan produksi kami juga ada yang masih (dibeli) menggunakan mata uang asing.

Tapi sebagian besar produksi kami di pabrik Karawang itu sudah memiliki tingkat kandungan dalam negeri yang sangat tinggi, jadi bisa menahan dampak pelemahan rupiah," ungkap Yusak.