Ia juga menegaskan bahwa kekeliruan visual yang terjadi di layar kaca bukan merupakan unsur kesengajaan, melainkan dampak dari imajinasi tim produksi mengenai kelanjutan era Joseon.

Meski demikian, ia mengakui adanya kelalaian dalam mempertimbangkan aspek-aspek sejarah penting saat proses penggarapan cerita.

“Kalau ada yang bertanya pada konsultan sejarah soal naik takhta pada era itu, mereka akan mendeskripsikan hal yang sama (seperti yang sudah disajikan dalam drama),” lanjut Park Joon Hwa.

Pada bagian akhir penjelasannya, ia menyatakan adanya obsesi pribadi yang membuatnya merasa terkekang oleh arahan mengenai penggambaran periode tersebut.

Ia mengaku bersalah karena mengabaikan keberadaan Kekaisaran Korea dalam refleksi drama fantasi ini.

“Saya rasa saya memiliki semacam obsesi. Ketika saya diberi tahu bahwa begitulah cara yang dilakukan pada periode itu, saya merasa terkekang.

Tetapi masalahnya, dalam sejarah kita yang sebenarnya, ada Kekaisaran Korea.

Dalam drama fantasi ini, kami telah menghilangkan periode-periode yang menyakitkan, era kolonial, tetapi seharusnya saya mengangkat hal itu dan merefleksikannya dalam cara saya menggambarkan berbagai hal.

>>> Westlife Jual Habis Tiket Konser 25 Tahun di Stadion GBK

Dan saya tidak melakukannya, dan itu adalah kesalahan saya,” tutup Park Joon Hwa.