>>> Menteri Budaya Ucapkan Selamat kepada Sutradara Jin Mi-song atas Kemenangan di Cannes

Kualitas lelah orang dewasa dan jaraknya dari anak SMP muncul secara alami. Hal itulah yang mendefinisikan karakternya.

Para pemeran tidak banyak berdiskusi secara langsung. Masing-masing membawa interpretasi sendiri dan menunjukkannya lewat akting.

Sanpei dan Takeuchi ternyata memiliki gelombang yang sama tanpa perlu berdiskusi sebelumnya. Juzo adalah seseorang yang menghabiskan hidupnya sebagai pembunuh bayaran, dengan pengalaman dan kelelahan yang khas.

Kesan pertama Sanpei saat membaca manga adalah karakter Juzo sangat unik. Ia mencoba berbaur, tetapi sisi pria paruh baya selalu bocor.

Sanpei sering mendapat peran anak laki-laki, sehingga memerankan anak SMP yang berjiwa dewasa terasa sangat menarik.

Ia menambahkan bahwa Juzo mengesankan tetapi tidak sombong. Ia hanya menjalani hidup karena cocok dengan profesinya.

Melihat orang dewasa diejek oleh anak-anak SMP sangatlah menghibur. Juzo sangat cakap dalam adegan aksi, tetapi kikuk secara sosial.

Sanpei menyarankan penonton untuk memperhatikan kontras antara dua sisi Juzo. Satu momen ia diolok-olok, momen berikutnya ia sangat keren.

Ia berhati-hati untuk tidak terlalu condong ke arah komedi. Jika terlalu lucu, Juzo akan terasa seperti anak SMP biasa.

Yang membuat Juzo unik adalah jarak yang ia pertahankan. Reaksinya lebih seperti "Begitulah hidup," yang menunjukkan perspektif dewasa.

>>> BTV Chattogram Siarkan Program Eid in the Hills Bersama Sembilan Komunitas

Di luar pekerjaan, Sanpei sering diberi tahu bahwa suaranya lebih keras dari yang ia sadari. Ia khawatir saat menegur anaknya, suaranya terdengar lebih keras dari yang dimaksud.