Pada kejadian sebelumnya, kerusakan dipicu putusnya jaringan transmisi serta robohnya menara listrik akibat bencana alam.

Menurut Darmawan, blackout kali ini tidak disebabkan kerusakan fisik pada infrastruktur kelistrikan.

“Ini kondisi yang sangat berbeda dalam bencana Sumatera Utara, Sumatera Barat, Aceh pada waktu itu,” ujarnya.

PLN memastikan gardu induk dan jaringan transmisi kini telah kembali beroperasi.

“Hari ini kami menyampaikan bahwa gardu induk dan sistem transmisi kami sudah pulih,” kata Darmawan.

Pemulihan Dimulai Sejak Jumat Malam

PLN menyatakan proses pemeriksaan dan pemulihan langsung dilakukan sejak gangguan terdeteksi pada Jumat pukul 18.44 WIB.

Ratusan personel diterjunkan ke sejumlah wilayah terdampak, mulai dari Jambi, Sumatera Barat, Riau, Sumatera Utara hingga Aceh.

Darmawan mengatakan pemulihan sistem transmisi dan gardu induk berhasil dilakukan dalam waktu sekitar dua jam.

“Alhamdulillah dalam waktu sekitar 2 jam, seluruh sistem gardu induk dan transmisi kami bisa kami pulihkan,” ujarnya.

Setelah jaringan transmisi kembali normal, PLN mulai menyalakan pembangkit secara bertahap untuk mengembalikan pasokan listrik ke pelanggan.

Pembangkit berbasis hidro dan gas disebut lebih cepat kembali beroperasi karena proses start-up yang lebih singkat.

Sebaliknya, pembangkit thermal seperti PLTU memerlukan tahapan lebih panjang sebelum kembali menyuplai listrik secara penuh.

Menurut PLN, proses penyalaan PLTU harus dilakukan satu per satu, mulai dari pemanasan, sinkronisasi sistem, hingga masuk ke operasi penuh.

“Harus dinyalakan satu per satu, kemudian harus kami sambungkan dan kami sinkronkan, dan ini membutuhkan waktu,” kata Darmawan.

PLN memperkirakan pembangkit jenis PLTU membutuhkan waktu sekitar 15 sampai 20 jam hingga kembali beroperasi normal.

Pemulihan dilakukan serentak mencakup jaringan transmisi, gardu induk, hingga pembangkit di sistem kelistrikan Sumatera.