Klub telah mengusulkan model alternatif yang kami yakini kredibel, konstruktif, dan layak dievaluasi," tegas pernyataan resmi klub.

Pertikaian semakin meruncing setelah penawaran Genius Sports sebesar Rp2.129 triliun per tahun untuk kontrak jangka panjang.

Klub-klub menolak dan meminta perusahaan Inggris itu hanya menjadi mitra data dan teknologi.

Klub ISL menginginkan pembagian hak ekonomi sebesar 90 persen untuk mereka sendiri dan 10 persen untuk federasi.

Mereka juga mendesak AIFF agar tidak mengambil keputusan mengikat dalam Sidang Umum Luar Biasa (SGM).

Seorang CEO klub mengonfirmasi adanya pemotongan gaji, penundaan upah pemain, hingga penangguhan operasi akibat ketidakjelasan proyeksi pendapatan.

"Pemilik tahu tidak mungkin impas, tetapi mereka setidaknya ingin diberi tahu ada cahaya di ujung terowongan," ujarnya.

Masalah internal AIFF diperparah oleh protes hukum dari anggota komite eksekutif, Valanka Alemao.

Ia menilai penyelenggaraan SGM berpotensi melanggar konstitusi dan putusan Mahkamah Agung karena kuorum perwakilan pemain, pelatih, dan wasit belum terpenuhi.

>>> Madura United Wajib Menang Lawan PSM Makassar demi Hindari Degradasi

Pejabat AIFF dijadwalkan menggelar pertemuan langsung dengan pemilik dan perwakilan klub ISL. Pertemuan ini akan membahas kelanjutan kemitraan komersial.