Setelah kepastian juara itu diperoleh, kapten tim Martin Odegaard langsung menghubungi sang pelatih melalui sambungan telepon untuk menanyakan keberadaannya.

"Saya bilang, nikmati dulu momen ini dan kita bertemu beberapa jam lagi di suatu tempat di London," kata Arteta.

Keberhasilan ini mengakhiri catatan buruk Arsenal yang dalam tiga musim beruntun sebelumnya selalu mengakhiri kompetisi domestik pada posisi runner-up di bawah tekanan yang besar.

"Bermain dengan tekanan seperti itu setiap saat tidak mudah. Itu salah satu masa tersulit," katanya.

Ketekunan dan ketahanan emosional diklaim menjadi kunci utama bagi tim asal London Utara tersebut untuk membungkam keraguan publik sepanjang bergulirnya kompetisi.

"Kami menunjukkan nilai penting bukan hanya dalam olahraga, tetapi juga dalam hidup, yaitu ketekunan, ketahanan, dan tetap tenang ketika banyak orang meragukan kami," kata Arteta.

Sang pelatih juga membeberkan pergolakan batin yang ia rasakan selama ini mengenai kapasitas dirinya dalam memimpin klub sebesar Arsenal menuju tangga juara.

"Saya pernah bertanya kepada diri sendiri, apakah saya cukup baik untuk memimpin para pemain ini memenangkan trofi besar?

Sebelum Anda melakukannya, Anda tidak bisa membuktikan diri," ujarnya.

Trofi ini menjadi gelar juara Liga Inggris perdana bagi Mikel Arteta semenjak dirinya menjabat sebagai juru taktik utama.

Ini sekaligus menjadi modal kepercayaan diri menjelang laga final UEFA Champions League melawan Paris Saint-Germain pada 30 Mei mendatang.

>>> Tim Bulutangkis Indonesia Siap Bangkit di Piala Thomas dan Uber 2026

Arsenal dijadwalkan akan menutup kompetisi domestik musim ini sekaligus mengangkat trofi Premier League secara resmi saat menjamu Crystal Palace pada hari Minggu nanti.