Cloudera menilai ketahanan industri telekomunikasi di era kecerdasan buatan (AI) tidak lagi hanya ditentukan oleh kemampuan menjaga jaringan tetap aktif.

Menurut Athul Prasad, Global Director AI Industry Solutions Telco, Media & Entertainment Cloudera, ketahanan kini bergantung pada kemampuan operator mengelola data, mengorkestrasi jaringan yang kompleks, serta menerapkan AI secara aman dalam skala besar.

>>> 20 Tahun Berselang, Nia Dinata Mulai Syuting Berbagi Suami 2.0

Pandangan ini disampaikan bertepatan dengan tema World Telecommunication and Information Society Day (WTISD) 2026, yaitu “Strengthening resilience in a connected world”.

Tema tersebut menyoroti pentingnya membangun konektivitas yang lebih tangguh di tengah meningkatnya ketergantungan terhadap infrastruktur digital global.

Tantangan Ketahanan Jaringan

Menurut Cloudera, tantangan ketahanan jaringan semakin kompleks seiring pertumbuhan trafik data dan perluasan ekosistem telekomunikasi modern.

Jaringan saat ini tidak hanya bergantung pada infrastruktur terestrial atau menara seluler, tetapi juga melibatkan kabel bawah laut, satelit, pusat data, hingga sistem AI yang bekerja secara real-time.

Berdasarkan proyeksi Ericsson, trafik data seluler dunia diperkirakan mencapai 280 exabyte per bulan pada 2030.

Sementara itu, jumlah pelanggan 5G diproyeksikan menembus 6,3 miliar pengguna atau sekitar dua pertiga dari seluruh pelanggan seluler global.

Di Indonesia, implementasi jaringan 5G terus berkembang dengan jangkauan yang telah hadir di 48 kota.

Ekspansi tersebut mendorong operator untuk mengelola volume data yang semakin besar dan infrastruktur yang semakin terdistribusi.

Tiga Fondasi Ketahanan di Era AI

Athul Prasad menjelaskan bahwa ketahanan di era AI akan ditentukan oleh tiga fondasi utama, yakni kedaulatan data, orkestrasi jaringan yang cerdas, dan pengoperasian AI yang dapat dipercaya.