Antusiasme luar biasa dari pencinta sepak bola di kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung juga meninggalkan kesan mendalam.

Kehadiran puluhan ribu penonton di tribun dinilai sebagai esensi utama sepak bola.

"Pertandingan di Jakarta dan di Bandung yang dihadiri banyak sekali orang. Menurut saya, esensi sepak bola adalah itu bermain untuk suporter di hadapan banyak orang," ucap Van Gastel.

Namun, ia menyayangkan kebijakan pertandingan tanpa penonton yang beberapa kali diterapkan musim ini. Pembatasan tersebut dinilai mengurangi atmosfer ideal sebuah pertandingan.

"Sayangnya di liga ini banyak sekali pertandingan yang harus dimainkan tanpa penonton dan menurut saya itu sangat disayangkan," kata Van Gastel.

Kenyamanan di Yogyakarta dan Komitmen Jangka Panjang

Di luar taktik lapangan, adaptasi budaya dan interaksi dengan masyarakat lokal memberikan warna baru bagi kehidupan personalnya.

>>> Piala Asia 2027 Jadi Target Besar Timnas Indonesia, PSSI Siapkan Naturalisasi

Kenyamanan tinggal di Yogyakarta menjadi alasan kuat di balik komitmennya bersama klub.

"Secara keseluruhan saya sangat senang bisa datang ke sini karena hal ini memberikan warna baru dalam hidup saya, tidak hanya dari segi sepak bola tetapi juga kehidupan pribadi," ujar Van Gastel.

Stabilitas manajemen klub dan visi jangka panjang dari pemilik PSIM menjadi faktor krusial yang membuatnya mantap bertahan. Fokus kerjanya kini diarahkan untuk membangun fondasi klub agar berkembang bertahap.

"Bagi saya ini adalah pencapaian yang besar. Itulah salah satu alasan mengapa saya sekarang melatih di sini.

Saya melihat klub ini stabil, manajemen dan pemiliknya punya kemauan kuat untuk membuat klub ini benar-benar stabil agar bisa berkembang selangkah demi selangkah," kata Van Gastel.