Swedia menerapkan berbagai desain jalan yang dikenal dengan istilah forgiving roads atau jalan yang dirancang untuk meminimalkan dampak kecelakaan.

Beberapa di antaranya berupa median pembatas fisik untuk mencegah tabrakan frontal, penyempitan jalan di area permukiman agar kendaraan melambat, hingga pembatasan kecepatan di kawasan pejalan kaki.

Berbagai laporan keselamatan jalan menunjukkan angka kematian lalu lintas di Swedia termasuk salah satu yang terendah di dunia, yakni di bawah tiga korban per 100.000 penduduk.

Sementara itu, Jepang menerapkan pendekatan keselamatan melalui disiplin sistem, kualitas transportasi publik, standar pelatihan pengemudi, serta penggunaan teknologi pengawasan.

Penegakan hukum dilakukan melalui kamera pemantau, sistem poin SIM, dan standar kendaraan yang ketat. Dalam konsep Safe System, tanggung jawab keselamatan tidak sepenuhnya dibebankan kepada pengguna jalan.

Pemerintah, operator transportasi, produsen kendaraan, perancang jalan, hingga penegak hukum dinilai memiliki peran dalam menekan risiko kecelakaan.

Menurut Djoko, pendekatan tersebut berbeda dengan pola evaluasi kecelakaan di Indonesia yang masih banyak berfokus pada faktor pengemudi.

>>> Produsen Mobil Korea Pantau Dampak Pelemahan Rupiah terhadap Bisnis

Padahal, kondisi jalan, pengawasan, kelayakan kendaraan, dan sistem transportasi juga dinilai berpengaruh terhadap tingkat keselamatan. “Kalau sopir mengantuk, kenapa sistem kerja membiarkan dia menyetir terlalu lama?

Kalau kendaraan rem blong, kenapa pengawasan uji laik jalannya gagal? Kalau jalan berbahaya, kenapa desain infrastrukturnya tidak diperbaiki?”

kata Djoko.

Ia menilai perubahan paradigma penting dilakukan apabila Indonesia ingin meningkatkan keselamatan transportasi jalan.

Perkembangan ekonomi dalam berita ini perlu dilihat dari dampaknya terhadap masyarakat, pelaku usaha, dan pasar.

Perubahan harga, nilai tukar, maupun sentimen investor dapat memengaruhi keputusan konsumsi dan strategi bisnis harian.