Pengisian daya cepat atau fast charging menjadi fitur andalan mobil listrik modern. Namun, banyak pengguna khawatir dampaknya terhadap usia baterai.

Dosen Universitas Gadjah Mada (UGM) sekaligus praktisi otomotif memberikan penjelasan. Menurutnya, fast charging aman digunakan jika baterai memiliki sistem manajemen yang baik.

>>> Persaingan MPV Listrik BYD M6 vs Wuling Darion EV Makin Panas

Sistem manajemen baterai atau Battery Management System (BMS) berperan krusial. BMS mengatur arus, suhu, dan tegangan selama pengisian.

Fast charging memang menghasilkan panas lebih tinggi dibanding pengisian lambat. Panas berlebih dapat mempercepat degradasi baterai jika tidak dikelola dengan benar.

Namun, BMS pada mobil listrik modern dirancang untuk meminimalkan risiko tersebut. BMS akan mengurangi kecepatan pengisian saat suhu baterai naik.

Pakar menekankan bahwa fast charging tidak selalu merusak baterai. Yang terpenting adalah frekuensi dan kondisi pengisian.

Pengisian cepat sesekali dalam perjalanan jauh tidak masalah. Namun, penggunaan fast charging setiap hari secara terus-menerus dapat memperpendek usia baterai.

>>> Kemenhub Jaring 19 Bus Melanggar Saat Rampcheck di Tol Jagorawi

Disarankan untuk menggunakan pengisian lambat di rumah sebagai kebiasaan utama. Fast charging sebaiknya digunakan saat darurat atau perjalanan jarak jauh.

Selain itu, menjaga level baterai antara 20-80 persen juga membantu memperpanjang usia. Pengisian hingga 100 persen secara rutin tidak dianjurkan.

Pabrikan mobil listrik umumnya memberikan garansi baterai selama 8 tahun atau 160. 000 km.

Ini menunjukkan kepercayaan terhadap ketahanan baterai modern.

Dengan pemahaman yang benar, pengguna tidak perlu khawatir berlebihan. Teknologi baterai terus berkembang untuk mendukung pengisian cepat yang lebih aman.

>>> Davide Brivio Dikabarkan Bakal Pindah ke Honda Racing Corporation

Kesimpulannya, fast charging aman asalkan digunakan secara bijak. BMS dan kebiasaan pengisian yang baik menjadi kunci utama menjaga kesehatan baterai.