Dalam khutbah tersebut, jamaah diajak menjaga kesucian hati sebelum berangkat ke Tanah Suci. Kehidupan seorang Muslim harus dipenuhi ketundukan kepada Allah SWT sejak lahir hingga meninggal dunia.

Alquran disebut sebagai petunjuk hidup yang menjaga manusia tetap berada dalam fitrah kesucian. Karena itu, setiap ibadah harus dilakukan dengan hati yang bersih dan niat yang lurus.

Bahaya Niat Duniawi dalam Ibadah Haji

Khatib menjelaskan bahwa perjalanan haji dapat kehilangan nilai ibadah apabila dicampuri riya’ atau keinginan mendapat pujian dari manusia.

Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya amal itu bergantung pada niatnya.” (HR Bukhari)

Hadis tersebut menjadi pengingat bahwa ibadah yang tidak dilandasi keikhlasan dapat kehilangan nilai di sisi Allah SWT.

Kerugian Pergi Haji Tanpa Niat Ibadah

Dalam khutbahnya, khatib memaparkan sejumlah kerugian bagi orang yang berangkat ke Tanah Suci dengan tujuan selain ibadah.

  • Ibadah menjadi sia-sia karena tercampur riya’ dan sum’ah.
  • Pengorbanan harta dan tenaga tidak bernilai di sisi Allah SWT.
  • Tidak memperoleh ampunan serta berpotensi menambah dosa.

Karena itu, jamaah diingatkan agar menjaga niat semata-mata untuk memenuhi panggilan Allah SWT dan mengharap ridha-Nya.

Ajakan Menjaga Ketakwaan

Menutup khutbahnya, khatib mengajak umat Islam terus meningkatkan ketakwaan dan memperbaiki niat dalam setiap ibadah.

Allah SWT berfirman dalam Surat An-Nahl ayat 128 bahwa Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan berbuat kebaikan.

Melalui momentum ibadah haji, umat Islam diharapkan mampu memperkuat keimanan, membersihkan hati, dan menjaga keikhlasan dalam seluruh amal ibadah.