Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa setan kerap memanfaatkan ucapan manusia untuk memecah persaudaraan. Karena itu, seorang mukmin hendaknya berhati-hati sebelum berbicara.

Rasulullah SAW juga memberikan tuntunan yang sangat jelas dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim:

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam.”

Hadis ini mengajarkan bahwa diam lebih baik daripada mengucapkan sesuatu yang menyakiti orang lain atau menimbulkan mudarat.

>>> Siapa Anak dan Suami Indri Wahyuni? Juri LCC 4 Pilar MPR RI di Kalbar Jadi Sorotan usai Polemik Penilaian, Bukan Orang Sembarangan?

Bahaya Ucapan yang Tidak Dijaga

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.

Pada masa sekarang, menjaga lisan tidak hanya berlaku dalam percakapan langsung, tetapi juga saat menulis di media sosial, grup percakapan, maupun ruang digital lainnya. Banyak perselisihan muncul karena seseorang mudah menghina, mencela, atau menyebarkan perkataan yang belum tentu benar.

Imam Al-Nawawi pernah mengingatkan:

“Seseorang yang ingin berbicara hendaknya mempertimbangkan terlebih dahulu perkataannya. Jika mengandung maslahat maka silakan berbicara, jika tidak maka lebih baik diam.”

Nasihat tersebut relevan dalam kehidupan saat ini. Tidak semua hal harus dikomentari dan tidak semua persoalan harus diperdebatkan.

Ucapan yang baik termasuk sedekah yang bernilai pahala. Rasulullah SAW bersabda:

“Jauhilah api neraka walaupun dengan bersedekah sepotong kurma. Jika tidak mampu, maka dengan perkataan yang baik.”

Karena itu, biasakanlah menyampaikan nasihat dengan santun, menegur tanpa menyakiti, dan berbicara dengan penuh adab.

Semoga Allah SWT menjadikan kita hamba-hamba yang mampu menjaga lisan, memperbanyak ucapan yang bermanfaat, serta dijauhkan dari perkataan yang mengundang dosa dan permusuhan.

بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم، أقول قولي هذا وأستغفر الله العظيم لي ولكم فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.