Begitu pula dengan kekuatan fisik. Manusia sering merasa hebat, padahal sakit kecil saja mampu membuat tubuh tak berdaya.

Ilmu yang dimiliki juga tidak layak menjadi alasan untuk sombong. Semua pengetahuan berasal dari karunia Allah SWT dan menjadi hasil perjuangan para ulama yang menyebarkan ilmu dari generasi ke generasi.

Pada hakikatnya manusia berasal dari sesuatu yang hina dan pada akhirnya akan kembali menjadi jasad yang tak bernyawa. Karena itu, tidak ada alasan bagi manusia untuk membanggakan dirinya.

Tawadhu Menjadi Ibadah yang Mulia

Orang yang menjaga hatinya dari kesombongan akan menyadari bahwa seluruh nikmat berasal dari Allah SWT. Kesadaran inilah yang melahirkan rasa syukur dan sikap tawadhu.

Dalam kitab Al-Amali al-Muthlaqah, Ibnu Hajar al-Asqalani meriwayatkan hadis dari Sayyidah ‘Aisyah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّكُمْ لَتَغْفُلُوْنَ عَنْ أَفْضَلِ الْعِبَادَةِ التَّوَاضُع

Artinya: “Sungguh kalian telah melalaikan salah satu ibadah yang paling utama, yaitu tawadhu’.”

Sikap rendah hati akan menghilangkan banyak permusuhan dan rasa iri di tengah masyarakat. Manusia tidak lagi sibuk meninggikan diri dan berlomba dalam kesombongan dunia.

Semoga Allah SWT membersihkan hati kita dari penyakit takabur dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang tawadhu. Amin ya Rabbal ‘Alamin.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ