Padahal seluruh kelebihan itu hanyalah titipan Allah SWT. Ketika manusia lupa akan hal tersebut, lahirlah perilaku meremehkan sesama dan merasa lebih tinggi daripada orang lain.

Takabur Bisa Muncul dalam Kehidupan Sehari-hari

Kesombongan tidak hanya dimiliki orang kaya atau penguasa. Penyakit hati ini dapat menyerang siapa saja tanpa memandang status sosial.

Seorang suami bisa meremehkan istrinya karena merasa lebih memahami banyak hal. Seorang ayah dapat memandang rendah anaknya karena merasa lebih berpengalaman.

Begitu pula seorang guru yang merasa ilmunya membuat dirinya lebih tinggi daripada murid-muridnya. Sikap seperti ini sering hadir tanpa disadari.

Allah SWT telah memperingatkan manusia agar menjauhi perilaku sombong sebagaimana firman-Nya dalam Surah Luqman ayat 18:

وَلَا تُصَعِّرۡ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمۡشِ فِي ٱلۡأَرۡضِ مَرَحًاۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٖ فَخُور

Artinya: “Janganlah memalingkan wajahmu dari manusia karena sombong dan jangan berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman: 18)

Ayat tersebut mengajarkan pentingnya bersikap rendah hati dalam pergaulan sehari-hari. Islam melarang manusia menampilkan kesombongan dalam ucapan, sikap, maupun cara berjalan.

>>> Daftar Sinetron yang Kuasai Rating TV Nasional per Jumat, 8 Mei 2026 saat Persaingan Program Makin Ketat

Belajar dari Kisah Orang-orang yang Binasa karena Sombong

Kaum Muslimin rahimakumullah, sudah sepatutnya kita mengoreksi hati masing-masing agar tidak terserang penyakit takabur.

Ketika muncul rasa bangga terhadap kekayaan, ingatlah kisah Qarun. Hartanya melimpah hingga kunci gudangnya dipikul banyak orang kuat, namun seluruh kekayaannya tidak mampu menyelamatkannya dari azab Allah SWT.

Jika muncul rasa bangga terhadap jabatan dan kekuasaan, renungkan akhir kehidupan Fir’aun yang tenggelam bersama kesombongannya.