Lonjakan Saham Pertahanan Pascaserangan Iran Ditopang Kontrak Pemeliharaan dan Modernisasi
Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir pekan diperkirakan kembali mendorong penguatan saham sektor pertahanan. Meski konflik bersifat situasional, arus kas perusahaan pertahanan dinilai tetap terjaga bahkan setelah ketegangan mereda.
Selama ini, saham industri militer bergerak seiring eskalasi geopolitik. Ketika konflik meningkat, belanja pertahanan melonjak dan harga saham ikut terkerek. Namun di balik pola tersebut, terdapat perubahan fundamental dalam cara perusahaan menghasilkan pendapatan.
Dari Penjualan Senjata ke Ekosistem Layanan
Sistem persenjataan modern kini tidak lagi sekadar produk sekali jual. Setelah jet tempur, sistem pertahanan rudal, atau kapal perang dioperasikan, negara pengguna terikat pada biaya dukungan jangka panjang.
Laporan Government Accountability Office menunjukkan sekitar 70 persen total biaya siklus hidup sistem senjata utama berasal dari operasi dan pemeliharaan. Komponen itu mencakup suku cadang, perawatan fasilitas, pelatihan, pembaruan perangkat lunak, serta integrasi sistem.
Karena kesiapan militer tidak boleh terganggu, anggaran dukungan cenderung bertahan bahkan saat pengadaan unit baru melambat.
Lockheed Martin Perluas Pendapatan dari F-35
Lockheed Martin menjadi contoh bagaimana basis terpasang menciptakan pendapatan berulang. Program F-35 menyumbang 26 persen dari total penjualan bersih konsolidasi pada 2024.
Pendapatan tersebut meliputi pengembangan, produksi, serta kontrak perawatan. Pada 2024, penjualan layanan meningkat seiring naiknya volume kontrak pemeliharaan F-35.
Perusahaan juga mencatat backlog mencapai 194 miliar dolar AS hingga akhir 2025, memberikan kepastian pendapatan multiyear. Meski pengawasan Pentagon sempat menyoroti aspek ketersediaan armada, potensi arus kas dari perawatan tetap signifikan.
RTX Andalkan Diversifikasi dan Aftermarket
RTX melaporkan backlog mendekati 268 miliar dolar AS. Di lini pertahanan, sistem rudal dan pertahanan udara memerlukan pembaruan serta dukungan teknis berkelanjutan.
Update Terbaru
XLSmart Buka 1.000 Peluang Kerja di Tengah Gelombang PHK
Minggu / 05-07-2026, 00:32 WIB
Tren Estetika Bergeser, Wajah Natural Kini Jadi Incaran Gen Z
Minggu / 05-07-2026, 00:32 WIB
10 Pukulan Luffy Paling Memuaskan di One Piece, dari Hebat hingga Legendaris
Minggu / 05-07-2026, 00:32 WIB
Sony Konfirmasi PS3 PlayStation Store Tutup Global pada 2027
Minggu / 05-07-2026, 00:28 WIB
Epic Games Capai Kesepakatan dengan Pembocor Fortnite, Larang Akses Data Rahasia
Minggu / 05-07-2026, 00:28 WIB
Fosil Texas Ungkap Predator Laut Purba Baru, Tylosaurus rex
Minggu / 05-07-2026, 00:28 WIB
Alexandra Eala Kalahkan Iga Swiatek di Wimbledon, Swiatek Jatuh ke Peringkat 6
Minggu / 05-07-2026, 00:22 WIB
Empat Negara Buka Babak 16 Besar Piala Dunia 2026
Minggu / 05-07-2026, 00:22 WIB
Valkyries Incar Kemenangan Keempat Beruntun Lawan Dream
Minggu / 05-07-2026, 00:22 WIB
Kelly Ripa Khawatir dengan David Muir yang Akan Siaran 24 Jam
Minggu / 05-07-2026, 00:21 WIB
Chris Evert dan Martina Navratilova Hadapi Kanker dalam Film Dokumenter Baru
Minggu / 05-07-2026, 00:21 WIB
Jasa Marga Perkuat Layanan Pelanggan, Libatkan Rhenald Kasali dan Mohammed Ali Berawi
Minggu / 05-07-2026, 00:15 WIB
Lontong Wu Fu dan Tarian Topeng Meriahkan Perayaan Thay Shang Lao Jun di Kelenteng Tian Fu Gong
Minggu / 05-07-2026, 00:15 WIB
KPK: Kenaikan Gaji Kepala Daerah Tak Berkorelasi dengan Pencegahan Korupsi
Minggu / 05-07-2026, 00:15 WIB







