Portugal dikenal sebagai negara dengan kecintaan besar terhadap sepak bola. Negara ini melahirkan pemain legendaris seperti Eusébio, Luís Figo, dan Cristiano Ronaldo.

Namun, di balik gemerlap sepak bola, Portugal pernah dipimpin oleh seorang diktator yang justru membenci olahraga tersebut.

>>> Teach You a Lesson Jadi Serial Korea Terlaris Kelima di Netflix

Dia adalah António de Salazar, Perdana Menteri yang berkuasa dari 1932 hingga 1974.

Salazar dan Kebenciannya pada Sepak Bola

Salazar secara terbuka menyatakan tidak suka sepak bola. Ia menyebut olahraga itu tidak berdisiplin dan kacau, serta lebih memilih senam.

Meski begitu, Salazar memanfaatkan sepak bola untuk propaganda politik. Ia membangun Stadion Nasional (Estádio Nacional do Jamor) yang diresmikan pada 1944 di dekat Lisbon.

Stadion itu digunakan untuk acara massal pemuda dan final Piala Portugal. Rezimnya juga memberi label "Klub Rezim" kepada klub besar seperti Sporting CP dan Benfica.

Banyak mahasiswa, pemuda, dan pemain sepak bola muak dengan gaya kepemimpinan Salazar yang berkuasa selama empat dekade.

>>> Medaka Kuroiwa Is Impervious to My Charms Season 2 Tayang Januari 2027

Rezim Tumbang Lewat Revolusi Anyelir

Rezim Salazar akhirnya tumbang pada 25 April 1974 melalui kudeta tak berdarah yang dikenal sebagai Revolusi Anyelir.

Kudeta dipimpin oleh Movimento das Forças Armadas (MFA) atau Gerakan Angkatan Bersenjata.

Nama Revolusi Anyelir berasal dari aksi Celeste Caeiro, seorang pekerja restoran di Lisbon, yang membagikan bunga anyelir kepada para tentara.

Warga yang bersuka cita kemudian mengikuti jejaknya, meletakkan anyelir di moncong senapan dan seragam tentara.

>>> Alexander Zverev Menang Set Pertama Lawan Marcos Giron di Wimbledon

Sejak saat itu, rakyat dan pemerintahan Portugal berubah, dan sepak bola tidak lagi melayani kepentingan rezim.