Lima puluh anggota Parlemen Eropa meminta komite etik FIFA menyelidiki Presiden FIFA Gianni Infantino. Permintaan ini terkait pemberian hadiah perdamaian kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Para anggota parlemen mengumumkan dukungan mereka pada Kamis malam terhadap pengaduan resmi yang diajukan oleh FairSquare. FairSquare adalah organisasi lobi hak asasi manusia olahraga yang berbasis di Inggris.

>>> Kalshi Perluas Kontrak Event untuk Piala Dunia

Mereka mengirimkan surat resmi tertanggal 29 Juni untuk menyuarakan kekhawatiran tata kelola yang diangkat oleh kelompok hak asasi manusia tersebut.

Surat itu ditandatangani oleh perwakilan dari 13 negara Eropa.

Para penandatangan terutama berasal dari faksi politik Sosial Demokrat, Liberal, dan Hijau. Barry Andrews, Lara Wolters, Niels Fuglsang, dan Sebastian Everding menjadi penandatangan utama.

Surat tersebut menyatakan bahwa kode etik FIFA mewajibkan Infantino untuk tetap netral secara politik. Anggota parlemen Eropa menilai investigasi ini bisa menjadi ujian bagi struktur akuntabilitas internal FIFA.

Pengaduan ini disebut sebagai kesempatan bagi FIFA untuk membuktikan komitmennya terhadap netralitas politik, transparansi, dan akuntabilitas.

Surat itu secara khusus mempertanyakan proses administratif yang menghasilkan pembuatan dan pemberian penghargaan kepada presiden AS.

>>> Prancis Hadapi Paraguay di Babak 16 Besar Piala Dunia 2026

Anggota parlemen mengutip permintaan LSM agar komite etik FIFA menyelidiki apakah keputusan memperkenalkan hadiah perdamaian tahunan FIFA dan memberikannya kepada Trump diambil oleh Dewan FIFA, biro dewan, atau secara sepihak oleh Infantino sendiri.

Dalam pernyataan pendamping, FairSquare menyoroti signifikansi historis intervensi politik ini.

Organisasi itu menyebut surat tersebut sebagai intervensi paling signifikan oleh pembuat kebijakan Eropa ke dalam kesalahan tata kelola di puncak sepak bola dunia sejak Parlemen Eropa meminta pendahulu Infantino, Sepp Blatter, mundur pada 2015.

Surat itu juga mengkritik hubungan geopolitik dan komersial FIFA yang lebih luas.

Secara khusus menyasar koneksi FIFA dengan tuan rumah Piala Dunia 2034, Arab Saudi, dan kesepakatan sponsor dengan perusahaan minyak milik negara Aramco, yang oleh anggota parlemen disebut sebagai polutan korporat terbesar di dunia.

>>> Ramalan Zodiak 4 Juli: Aries Jangan Paksakan Diri, Taurus Lapang Dada

Dari 211 negara anggota FIFA, hanya federasi sepak bola Norwegia yang secara resmi bergabung dalam kritik dengan menyerukan investigasi.