Pemerintah wilayah New Delhi, India, memfinalkan kebijakan insentif tukar-tambah mobil lama ke mobil listrik (EV). Kebijakan ini bertujuan menekan tingkat polusi udara di kota tersebut.

Sektor transportasi menyumbang rata-rata 23 persen polutan udara di New Delhi. Angka itu menjadikannya kontributor tunggal terbesar polusi kota, menurut data pemerintah yang dikutip The Independent.

>>> Israel Mulai Siapkan Rencana Bunuh Negosiator Iran

Kebijakan bernilai 150 miliar rupee India atau sekitar Rp28,2 triliun ini berlaku selama empat tahun. Program ini menyasar pembeli kendaraan listrik roda dua, mobil, dan truk kecil.

Pemerintah Delhi menargetkan 30 persen armada kendaraan kota beralih ke listrik pada 2030.

Insentif Tukar-Tambah

Insentif tukar-tambah berlaku bagi pemilik yang membeli kendaraan sebelum 1 April 2020 dan menukarnya dengan mobil listrik.

Insentif yang diberikan senilai lebih dari US$1.060 atau sekitar Rp19 juta.

Kebijakan ini ditargetkan mulai berlaku 1 Juli. Kendaraan hibrida tidak termasuk dalam cakupan kebijakan ini.

Pembeli mobil listrik murni (BEV) seharga hingga 3 juta rupee India (Rp565 jutaan) dibebaskan dari pajak jalan dan biaya registrasi.

>>> Yamal usai Spanyol Gilas Austria: Piala Dunia Baru Dimulai Sekarang

Pembebasan itu biasanya mencapai 4-10 persen dari harga mobil.

Untuk kendaraan roda dua, pemerintah Delhi memberi insentif tunai 30.000 rupee India (Rp5,6 juta) pada tahun pertama kebijakan.

Insentif itu menyusut menjadi 10.000 rupee India (Rp1,8 juta) pada tahun ketiga.

Delhi juga bakal menyetop penerbitan pelat nomor baru untuk truk kecil dan kendaraan roda tiga berbahan bakar fosil mulai 2027.

Larangan itu berlanjut ke sepeda motor dan skuter bensin mulai 1 April 2028.

>>> KPK Akan Dalami Pengakuan Raja Juli Terima Amplop dari Bupati Kuansing

Kebijakan ini berpotensi menguntungkan produsen kendaraan listrik seperti Tata Motors dan Mahindra & Mahindra. Produsen motor listrik TVS Motor, Bajaj Auto, dan Ather Energy juga diuntungkan.