"Ada peluang untuk itu (pembangunan pabrik di RI). Kalau jumlahnya masif kan kita punya bargaining untuk minta mereka bangun di sini," pungkasnya.

Tantangan Infrastruktur dan Pasokan

Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI) Ronny P Sasmita menyampaikan Indonesia saat ini secara realistis belum sepenuhnya siap untuk melakukan peralihan besar-besaran dari LPG ke CNG, terutama jika berbicara dalam skala rumah tangga nasional.

Menurut Ronny, masalah utama peralihan tersebut terdapat dua sisi, yakni pasokan dan infrastruktur.

Dari sisi pasokan, gas bumi Indonesia memang relatif cukup, tetapi distribusinya tidak merata dan masih terkonsentrasi di wilayah tertentu.

Sementara itu, dari sisi infrastruktur, jaringan pipa gas, stasiun pengisian CNG, hingga perangkat konversi di tingkat rumah tangga masih sangat terbatas.

"Ini berbeda dengan LPG yang sudah memiliki ekosistem distribusi matang hingga level warung.

Jadi, tanpa investasi besar dan waktu yang cukup panjang, transisi ini berisiko menjadi kebijakan yang terlalu ambisius dibanding kesiapan riil di lapangan," ujar Ronny saat dihubungi CNNIndonesia.

com, Kamis (2/7).

Kemudian, ia menyinggung prasyarat utama bagi pemerintah agar transisi tersebut tidak mengulang masalah konversi minyak tanah ke LPG.

Salah satunya adalah kesiapan ekosistem secara menyeluruh sebelum implementasi massal.

"Pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa keberhasilan konversi bukan hanya soal kebijakan, tetapi soal eksekusi di lapangan, distribusi yang tepat, edukasi masyarakat, serta jaminan keamanan dan ketersediaan," terangnya.

>>> Britney Spears Tampil Santai saat Jalan-jalan di Los Angeles

Dalam konteks CNG, Ronny menyebut tantangannya bahkan lebih kompleks karena membutuhkan infrastruktur fisik yang jauh lebih mahal dan rigid dibanding LPG.

Selain itu, pemerintah harus memastikan adanya koordinasi lintas sektor yang solid, mulai dari hulu (pasokan gas), midstream (infrastruktur), hingga hilir (pengguna).