Akibatnya, seseorang mungkin melakukan berbagai cara agar pasangan tetap bertahan, termasuk mengontrol, mengancam, atau bersikap posesif secara berlebihan.

Keempat, obsessive-compulsive disorder (OCD).

Pada beberapa kasus, obsessive love juga berkaitan dengan relationship obsessive-compulsive disorder (ROCD), yaitu bentuk OCD yang membuat seseorang terus-menerus meragukan hubungan atau kesetiaan pasangan.

Penderitanya bisa memiliki pikiran obsesif tentang perselingkuhan dan terus mencari kepastian melalui perilaku kompulsif, seperti memeriksa ponsel atau aktivitas pasangan.

Kelima, pengaruh sosial dan budaya. Lingkungan sosial turut memengaruhi cara seseorang memandang cinta dan hubungan.

Sebagian orang tumbuh dengan keyakinan bahwa cinta berarti kepemilikan atau pasangan harus selalu menuruti keinginannya sebagai bukti kasih sayang.

Pola pikir seperti ini dapat melanggengkan hubungan yang manipulatif dan tidak sehat.

Gejala Obsessive Love

Gejala cinta obsesif bisa berbeda pada tiap orang, tergantung penyebab yang mendasarinya. Namun secara umum, tanda-tandanya meliputi:

Terlalu terobsesi dengan hubungan meski baru mengenal pasangan dalam waktu singkat, cepat merasa 'jatuh cinta' secara intens, dan ingin terus mengontrol pasangan.

Sulit menerima batasan atau penolakan, merasa sangat cemburu tanpa alasan jelas, serta memantau aktivitas pasangan secara berlebihan.

>>> China Kerahkan Robot Humanoid di Perbatasan Vietnam untuk Kelola Arus Penumpang

Takut ekstrem ditinggalkan, mengancam pasangan saat hubungan terancam berakhir, dan memaksa pasangan memenuhi tuntutan yang tidak masuk akal.