Hubungan yang sehat juga memberi ruang bagi masing-masing individu untuk tetap berkembang sebagai pribadi yang utuh.

Sementara itu, obsessive love lebih berfokus pada kebutuhan diri sendiri. Alih-alih mencintai pasangan sebagai individu yang setara, seseorang dengan cinta obsesif cenderung ingin memiliki dan menguasai pasangan.

Dalam hubungan yang sehat, pasangan merasa aman dan dipercaya. Sebaliknya, hubungan obsesif sering diwarnai rasa curiga, kontrol berlebihan, serta ketakutan kehilangan yang intens.

Obsesi dalam cinta juga bisa muncul pada hubungan yang sebenarnya tidak ada, misalnya terhadap selebritas atau orang asing.

Kondisi ini dikenal sebagai erotomania, yaitu keyakinan delusional bahwa seseorang yang memiliki status sosial lebih tinggi diam-diam mencintainya.

Penyebab Obsessive Love

Ada banyak faktor yang dapat memicu munculnya cinta obsesif. Melansir Verywellmind, berikut beberapa di antaranya.

>>> Pencarian Awak Helikopter MH-60S yang Jatuh di Laut Arab Masih Berlangsung

Pertama, gangguan kesehatan mental. Obsessive love dapat berkaitan dengan kondisi psikologis seperti borderline personality disorder (BPD), depresi, skizofrenia, hingga gangguan delusi.

Orang dengan BPD, misalnya, sering memiliki ketakutan besar terhadap penolakan dan ditinggalkan. Mereka bisa membangun hubungan yang sangat intens dalam waktu singkat, tetapi emosinya mudah berubah drastis.

Kedua, pola attachment yang tidak sehat. Pengalaman masa kecil juga berpengaruh besar terhadap cara seseorang menjalin hubungan saat dewasa.

Anak yang tumbuh dengan pengasuh yang tidak konsisten, abusif, atau kurang memberi rasa aman berisiko memiliki insecure attachment.

Kondisi ini membuat seseorang mudah cemas, takut ditinggalkan, dan sangat bergantung pada pasangan.

Ketiga, trauma dan fear of abandonment. Trauma emosional atau pengalaman kehilangan di masa lalu dapat memunculkan ketakutan ekstrem untuk ditinggalkan.