>>> FBI Nyatakan Catatan Tebusan Penculikan Nancy Guthrie Palsu

Akibatnya, empati terhadap orang lain bisa hilang. Albers menjelaskan perilaku ini memiliki irisan dengan narsisme, terutama saat haus validasi.

"Akar dari perilaku ini sering kali justru berasal dari rasa tidak aman, kecemasan, atau rendah diri," jelasnya.

Peran Media Sosial

Media sosial menjadi lahan subur berkembangnya main character syndrome. Kebiasaan mengunggah potongan terbaik kehidupan membuat banyak orang merasa harus terus tampil menarik dan dramatis.

Fenomena ini diperparah budaya membandingkan diri dengan orang lain. Seseorang bisa merasa harus punya hidup yang 'sinematik' agar dianggap menarik.

Validasi dari media sosial menjadi sangat penting dan perlahan membentuk persepsi diri yang tidak realistis.

Apakah Selalu Buruk?

Main character energy sebenarnya tidak selalu buruk.

Selama seseorang sadar bahwa orang lain juga memiliki kehidupan dan perjuangan masing-masing, energi ini bisa menjadi bentuk self-care.

Merasa menjadi tokoh utama dalam hidup sendiri dapat membantu menetapkan batasan sehat, meningkatkan percaya diri, dan berani mengambil keputusan besar.

Yang perlu diwaspadai adalah ketika perasaan tersebut berubah menjadi sikap egois dan membuat orang lain terasa tidak penting.

>>> Kapolri: 464 Kasus Migas Diungkap, Negara Selamat Rp756 Miliar

Ingat, semua orang adalah pemeran utama dalam hidupnya masing-masing.