Jumlah itu menjadi yang pertama kembali ke kisaran normal 30-40 kapal sejak konflik pecah pada Februari 2026.

Menurut Morgan Stanley, untuk menyeimbangkan pasar minyak global pada 2027, arus pengiriman melalui Selat Hormuz hanya perlu pulih sekitar 65% dari level sebelum konflik, atau setara 11-12 juta barel per hari.

Pulihnya distribusi minyak turut mendorong koreksi harga minyak mentah Brent.

Setelah sempat melonjak hingga di atas US$126 per barel pada April akibat konflik Iran-AS, harga Brent kini telah menghapus hampir seluruh premi perang seiring berlanjutnya perundingan damai kedua negara.

Kontrak Brent paling aktif untuk pengiriman September terakhir diperdagangkan di kisaran US$73-74 per barel.

Selain faktor pasokan, Morgan Stanley juga melihat sejumlah indikator yang menunjukkan pasar minyak mulai melemah dalam jangka pendek.

Di antaranya adalah munculnya pola harga contango, di mana kontrak minyak jangka pendek diperdagangkan lebih rendah dibandingkan kontrak berjangka berikutnya, serta melemahnya harga fisik di sejumlah pasar.

>>> Kasus Hanania Travel: 16 Influencer Diperiksa, Rp110 Juta Dikembalikan

"Strip away the narrative for a moment and read only the prices. Mereka menggambarkan pasar yang telah melemah secara menyeluruh," tulis Morgan Stanley.