RD Kongo Cetak Sejarah Piala Dunia Meski Darurat Ebola
Republik Demokratik Kongo berhasil mencetak sejarah di Piala Dunia 2026. Timnas negara itu lolos ke babak 32 besar setelah menunggu lebih dari 50 tahun.
Kongo lolos setelah mengalahkan Jamaika 1-0 di playoff antarbenua dan menundukkan Uzbekistan 3-1 di laga pamungkas Grup K.
>>> Anak Punk Tewas Ditusuk Teman di Bekasi, Pelaku Ditangkap
Mereka mengoleksi 4 poin sebagai peringkat ketiga terbaik.
Di babak 32 besar, RD Kongo akan berhadapan dengan Inggris pada Rabu (1/7) di Stadion Atlanta, AS.
Ebola di Balik Prestasi
Namun, di balik keberhasilan itu, skuad Kongo harus menjalani isolasi tiga minggu di Eropa sebelum ke AS. Penyebabnya adalah wabah Ebola di negara asal mereka.
Pihak berwenang AS bersikeras agar tim menjalani karantina di Belgia atau berisiko ditolak masuk. Pelatih Sebastien Desabre berharap timnya bisa membawa kegembiraan bagi rakyat Kongo yang dilanda wabah.
"Sudah lama sejak orang-orang melihat tim ini di Piala Dunia," kata Desabre seperti dikutip Al Jazeera.
Varian Ebola Ganas
WHO menyatakan bagian timur RD Kongo menghadapi benturan dahsyat antara penyakit dan konflik. Wabah Ebola varian Bundibugyo menyebar cepat di tengah kekerasan bersenjata dan pengungsian massal.
>>> Redmi 17C Resmi Meluncur di China, Usung Layar 120Hz dan Baterai 5.160 mAh
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan ketidakamanan membuat pelacakan kontak hampir mustahil. "Kita tidak bisa membangun kepercayaan masyarakat atau mengisolasi orang sakit sementara bom terus berjatuhan," ujarnya.
Varian Bundibugyo pertama kali diidentifikasi di Uganda pada 2007 dan belum memiliki vaksin atau pengobatan yang disetujui. Hingga 24 Juni, tercatat 1.155 kasus terkonfirmasi dengan 304 kematian.
Virus Ebola ditularkan melalui kontak langsung dengan darah atau cairan tubuh hewan terinfeksi, seperti kelelawar buah, serta dari manusia ke manusia melalui kontak dengan penderita atau jenazah.
Ini adalah wabah Ebola ke-17 di RD Kongo sejak pertama ditemukan pada 1974.
Faktor penyebabnya antara lain konsumsi hewan liar yang terinfeksi, kebersihan buruk, dan minimnya fasilitas cuci tangan.
Daerah terdampak adalah wilayah miskin dengan infrastruktur buruk dan konflik bersenjata. Kondisi ini mempercepat penyebaran virus.
Update Terbaru
Kylian Mbappe Soal Prancis Jumpa Paraguay di 16 Besar: Itu Nanti, Fokus Saya Mencari AC Sekarang!
Rabu / 01-07-2026, 08:36 WIB
Swedia Digilas Tiga Gol, Gary Neville Sebut Timnas Perancis Berada di Level yang Berbeda
Rabu / 01-07-2026, 08:35 WIB
Honda Jual Accord ke-15 Juta di AS, Adik Pembeli Pertama Jadi Pemilik ke-15.000.001
Rabu / 01-07-2026, 08:35 WIB
Irak Tangkap 47 Pejabat Korupsi, Termasuk Anggota DPR
Rabu / 01-07-2026, 08:35 WIB
Survei: Banyak Bank Sentral Dunia Mulai Kurangi Ketergantungan pada Dolar AS
Rabu / 01-07-2026, 08:35 WIB
Daftar 16 Negara Bebas Visa Indonesia, Turun Drastis dari 169 Negara
Rabu / 01-07-2026, 08:35 WIB
Prabowo Beri Hormat ke Jokowi di HUT Bhayangkara ke-80
Rabu / 01-07-2026, 08:35 WIB
Mbappe Kirim Pesan Menyentuh untuk Deschamps Usai Bungkam Swedia
Rabu / 01-07-2026, 08:32 WIB
Cara Membuat Username WhatsApp agar Bisa Chat Tanpa Nomor HP
Rabu / 01-07-2026, 08:32 WIB
Apple Lobi AS Agar Bisa Pakai Chip RAM China, Harga DRAM Samsung Naik 100% Picu Ancaman Pasokan
Rabu / 01-07-2026, 08:32 WIB
Bandara Paling Berbahaya di Dunia, Tak Semua Pilot Bisa Mendarat di Sini
Rabu / 01-07-2026, 08:32 WIB
Backrooms Rilis Versi Extended, Tambahan 15 Menit Footage
Rabu / 01-07-2026, 08:32 WIB
Motor Jarang Dipakai? Ini Waktu Tepat Ganti Oli Mesin
Rabu / 01-07-2026, 08:31 WIB
Ada yang Turun, Ini Update Harga Terbaru BBM per 1 Juli 2026
Rabu / 01-07-2026, 08:31 WIB






