Rencana FCC Bunuh Ponsel Murah Ancam Korban KDRT
Federal Communications Commission (FCC) sedang mempertimbangkan aturan baru yang akan mempersulit penggunaan ponsel murah secara anonim.
Perubahan ini mewajibkan operator mengumpulkan lebih banyak data pelanggan sebelum mengaktifkan layanan, sebagai bagian dari upaya mengurangi robocall dan penipuan.
>>> Indonesia Targetkan Hentikan Impor Garam pada 2027
Namun, rencana tersebut mendapat tentangan keras dari sejumlah kelompok yang peduli pada privasi dan keselamatan korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
Data Pribadi yang Diminta
Dalam proposal yang diumumkan awal bulan ini, FCC mengusulkan operator mengumpulkan nama, alamat, nomor identitas pemerintah, dan nomor kontak alternatif pelanggan.
Informasi itu nantinya bisa digunakan aparat penegak hukum untuk melacak pelaku kejahatan.
Namun, ponsel murah sering digunakan oleh orang dalam situasi darurat, termasuk korban KDRT yang harus meninggalkan rumah dan memulai hidup baru.
Perwakilan National Network to End Domestic Violence dan Kansas Coalition Against Sexual & Domestic Violence telah menyampaikan kekhawatiran mereka ke FCC.
Mereka berargumen aturan ini akan mempersulit korban melarikan diri dari situasi mengancam.
>>> Jokowi Mulai Keliling Indonesia, Lampung Jadi Tujuan Pertama
Korban KDRT sering harus mengubah seluruh hidup mereka, termasuk nomor telepon baru. Menyerahkan data pribadi ke operator justru memudahkan pelaku menemukan mereka.
Selain itu, penipu jarang menggunakan identitas asli mereka, sehingga data yang dikumpulkan kemungkinan besar adalah data curian.
Hal ini bisa menimbulkan masalah baru bagi orang tak bersalah yang identitasnya dicuri.
Meski perang melawan robocall dan penipuan penting, tidak ada solusi mudah. Proposal ini awalnya tampak cerdas, namun ada alasan sah membeli ponsel murah yang tidak terkait pelanggaran hukum.
Semoga FCC dapat menemukan jalan keluar, misalnya dengan mengizinkan badan amal atau kelompok tertentu menjadi titik kontak.
>>> Strategi Keliru Hong Myung-Bo, Korea Selatan Terancam Angkat Koper Lebih Cepat dari Piala Dunia 2026
Namun, solusi itu pun tidak sempurna karena masih meninggalkan jejak bagi yang mencari.
Update Terbaru
90+ Pinjol Legal OJK 2026 dengan Tenor Bulanan yang Aman dan Cepat Cair
Rabu / 01-07-2026, 09:50 WIB
Nekat! Windows 11 Berhasil Berjalan Stabil di PC Berusia Lebih Dari 20 Tahun
Rabu / 01-07-2026, 09:50 WIB
James Kennedy dari 'Vanderpump Rules' Bertunangan dengan Jordan Meyers
Rabu / 01-07-2026, 09:49 WIB
Mahfud MD: Vonis 10 Tahun Nadiem Makarim Sudah Saya Duga
Rabu / 01-07-2026, 09:49 WIB
Mbappe Samai Messi, Prancis Melesat ke 16 Besar Piala Dunia 2026
Rabu / 01-07-2026, 09:49 WIB
Ronald Koeman Mundur Usai Belanda Tersingkir, KNVB Tempuh Jalur Hukum Lawan Rasisme
Rabu / 01-07-2026, 09:49 WIB
Amerika Enggan Cairkan Dana Beku Iran US$6 Miliar, Sebut Tak Sesuai Perjanjian
Rabu / 01-07-2026, 09:49 WIB
Chris Brown Diperintahkan Bayar Rp13 Miliar Akibat Serangan Anjing
Rabu / 01-07-2026, 09:45 WIB
Jadwal Baru Meksiko vs Ekuador di Piala Dunia, Hydration Break Dihapus
Rabu / 01-07-2026, 09:45 WIB
Prabowo Sematkan Tanda Kehormatan Samkaryanugara ke 2 Satker dan 10 Polda
Rabu / 01-07-2026, 09:45 WIB
Pernikahan Taylor Swift di MSG: Biaya Polisi Capai Rp2,5 Miliar
Rabu / 01-07-2026, 09:42 WIB
Hujan Lebat dan Badai Petir Tunda Laga Meksiko vs Ekuador di Piala Dunia 2026
Rabu / 01-07-2026, 09:42 WIB
Piala Dunia 2026 Buktikan Sepak Bola Tak Bisa Diukur dengan Algoritma
Rabu / 01-07-2026, 09:42 WIB
Buruh Tolak Kemasan Rokok Polos: Bukan Solusi Tapi Masalah Baru
Rabu / 01-07-2026, 09:42 WIB






