AI Percepat 'Kill Chain' Militer AS, Bukan Kendalikan, Kata Komandan
Para pemimpin militer Amerika Serikat kembali menegaskan bahwa kecerdasan buatan (AI) tidak akan menggantikan manusia sebagai pengambil keputusan akhir dalam serangan militer.
Meski demikian, sejauh mana AI akan terlibat dalam "rantai pembunuhan" atau kill chain masih terus berkembang, seiring teknologi ini semakin digunakan dalam pertempuran.
>>> Pertamina Catat Produksi Migas 1.032 MBOEPD Sepanjang 2025
Dalam operasi terbaru melawan Iran, militer AS menggunakan AI untuk "meluncurkan lebih dari 2.000 amunisi ke 2.000 sasaran berbeda dalam waktu 96 jam," menurut pernyataan bersumpah dari Cameron Stanley, kepala petugas digital dan AI Pentagon.
Pernyataan itu pertama kali dilaporkan oleh The Independent dan dikonfirmasi keasliannya oleh Task & Purpose.
Mantan komandan yang berbicara kepada Task & Purpose menggambarkan hal ini lebih sebagai percepatan analisis kapan dan di mana menyerang, bukan AI yang mengambil alih kill chain.
AI sebagai Alat Bantu Analisis
Jenderal Angkatan Darat (Purn) Joseph Votel, yang memimpin Komando Pusat AS dari 2016 hingga 2019, mengatakan pengalamannya dalam operasi kontra-terorisme menunjukkan banyak informasi yang terkumpul tidak terproses karena keterbatasan analis.
Votel mendukung penggunaan AI dalam proses pemilihan sasaran karena teknologi ini dapat mengolah data dalam jumlah besar jauh lebih cepat daripada manusia.
Letnan Jenderal Angkatan Udara (Purn) David Deptula, dekan Mitchell Institute for Aerospace Studies, menekankan perbedaan penting antara AI yang mendukung kill chain dan AI yang mengendalikannya.
>>> Disorot DPR, LPS Tegaskan Financial Festival 2026 Hanya Berstatus Sponsor dan Digelar Bergilir
"Militer AS telah lama menggunakan otomatisasi dalam senjata dan proses penargetan, tetapi masalah kebijakan dan etika utamanya adalah apakah komandan dan operator tetap memiliki pertimbangan manusia yang tepat atas penggunaan kekuatan," kata Deptula, yang menjadi perencana serangan utama kampanye udara koalisi dalam Perang Teluk 1991.
Update Terbaru
Semakin Brutal! Baca Killer Peter Chapter 141 Sub Indo Terbaru
Kamis / 02-07-2026, 10:00 WIB
Apple TV Umumkan Tanggal Rilis Ted Lasso Season 4
Kamis / 02-07-2026, 09:57 WIB
Light Novel Fantasy Witch and Hound Dapat Adaptasi Anime TV
Kamis / 02-07-2026, 09:57 WIB
Aramco dan Sonatrach Turunkan Harga LPG Juli 2026 Akibat Kelebihan Pasokan
Kamis / 02-07-2026, 09:56 WIB
Folarin Balogun Pilih Timnas AS, Tinggalkan Inggris dan Nigeria
Kamis / 02-07-2026, 09:56 WIB
Fox Sports Pertahankan Alexi Lalas Meski Dikritik Saat Piala Dunia
Kamis / 02-07-2026, 09:56 WIB
Chelsea dan Newcastle Bersaing Rekrut Striker AS Monaco Folarin Balogun
Kamis / 02-07-2026, 09:56 WIB
Erling Haaland Bawa Norwegia ke 16 Besar Piala Dunia
Kamis / 02-07-2026, 09:56 WIB
Donald Trump Raup Lebih dari Rp35 Triliun Sepanjang 2024
Kamis / 02-07-2026, 09:55 WIB
PLN dan Jababeka Perkuat Infrastruktur Listrik di Morotai
Kamis / 02-07-2026, 09:55 WIB
Peralatan Militer Pertama Board of Peace Tiba di Pangkalan ISF Gaza
Kamis / 02-07-2026, 09:55 WIB
Kemenko Pangan dan IDSurvey Dorong Transformasi Pelabuhan Hijau dan Cerdas
Kamis / 02-07-2026, 09:50 WIB
Rekor 72 Bulan Surplus Neraca Dagang Tamat, Lampu Kuning Ekonomi RI?
Kamis / 02-07-2026, 09:50 WIB
Harga Vinfast MPV 7 Rp329 Juta Hanya untuk 2.000 Konsumen Pertama
Kamis / 02-07-2026, 09:50 WIB






